Perkuat Kesehatan Ibu Hamil, Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang Bekali Kader Posyandu di Nekamese

Penguatan kader di Desa Oemasi, Tunfeu, dan Oelomin diarahkan pada pengelolaan Posyandu ILP serta pendampingan ibu hamil sesuai kewenangan kader.

OEMASI, Hariannttnews.com — Upaya memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak berbasis masyarakat terus dilakukan melalui pemberdayaan kader Posyandu. Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) memberikan penguatan kapasitas kader dalam mendukung kesehatan ibu hamil dan pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).

Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kesehatan Ibu Hamil melalui Pemberdayaan Kader Posyandu” tersebut dilaksanakan di Desa Oemasi, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang. Program ini melibatkan dosen Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Kupang bersama Tim Pengabmas Program Studi D III PJJ Kebidanan.

Tim Pengabmas diketuai Melinda R. Wariyaka, SST., M.Keb., dengan anggota Namsyah Baso, SST., M.Keb., Linda Risyati, S.Keb., Bd., M.Keb., dan Tri Maryati, S.Tr.Keb.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan kapasitas kader sebagai salah satu unsur penting dalam pelayanan kesehatan berbasis masyarakat, khususnya dalam mendukung ibu selama masa kehamilan.

Berangkat dari Kebutuhan di Masyarakat

Desa Oemasi menjadi salah satu lokasi kegiatan setelah tim melakukan identifikasi kebutuhan masyarakat. Pada April 2025, tercatat terdapat 12 ibu hamil di desa tersebut.

Selama ini, pendidikan kesehatan kepada ibu hamil lebih banyak diberikan oleh bidan melalui kegiatan Posyandu bulanan. Sementara kader Posyandu lebih dominan terlibat dalam pelayanan bayi dan balita sehingga peran mereka dalam mendampingi ibu hamil masih perlu diperkuat.

Desa Oemasi memiliki 25 kader Posyandu aktif. Namun, kader belum memperoleh pelatihan terstruktur yang secara khusus membekali mereka dengan kompetensi pendampingan ibu hamil.

Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim Pengabmas untuk memberikan penguatan pengetahuan dan keterampilan kepada kader sesuai kebutuhan masyarakat serta batas kewenangan mereka.

Perkuat Pemahaman Posyandu Integrasi Layanan Primer

Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, tetapi juga mencakup penguatan kompetensi kader dalam pengelolaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).

Kader diperkuat pemahamannya mengenai peran dan tugas dalam pelaksanaan Posyandu ILP, alur pelayanan, pengorganisasian kegiatan, pencatatan dan pelaporan, serta kontribusi kader dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.

Menurut tim Pengabmas, penguatan Posyandu ILP penting agar kader memahami bahwa Posyandu tidak hanya berfokus pada bayi dan balita, tetapi menjadi bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat yang menjangkau berbagai kelompok sasaran sepanjang siklus kehidupan.

Dengan pendekatan tersebut, ibu hamil juga menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan pelayanan Posyandu.

Kader Dibekali Pengetahuan Pendampingan Ibu Hamil

Selain pengelolaan Posyandu ILP, kader mendapatkan materi mengenai dukungan terhadap asuhan kehamilan dengan tetap memperhatikan batas kewenangan kader.

Kader dibekali kemampuan untuk memberikan edukasi sederhana kepada ibu hamil, mendorong pemeriksaan kehamilan secara teratur, memberikan motivasi terkait pemenuhan kebutuhan gizi, serta mengenali tanda bahaya kehamilan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Penguatan juga diberikan pada aspek komunikasi agar kader mampu menyampaikan informasi kesehatan menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kondisi keluarga.

Ketua Tim Pengabmas, Melinda R. Wariyaka, SST., M.Keb., menegaskan bahwa keberadaan kader bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan memperkuat jembatan pelayanan antara masyarakat dan tenaga kesehatan.

“Penguatan kader bukan untuk menggantikan peran bidan atau tenaga kesehatan, tetapi memperkuat peran kader sebagai pendamping masyarakat. Kader diharapkan mampu memberikan edukasi, melakukan pemantauan sederhana sesuai kewenangannya, memotivasi ibu hamil, serta menghubungkan ibu hamil dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut,” ujar Melinda kepada media ini, Selasa (6/10/2026).

Ia menjelaskan, posisi kader sangat strategis karena mereka berada dekat dengan keluarga dan masyarakat. Kedekatan tersebut memungkinkan kader membantu menyampaikan informasi kesehatan sekaligus mendorong ibu hamil untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia.

“Yang kita bangun adalah kemampuan kader untuk menjadi penghubung yang efektif. Ketika kader menemukan keluhan atau kondisi yang berada di luar kewenangannya, maka langkah yang tepat adalah mendorong ibu hamil segera mendapatkan pemeriksaan dari bidan atau tenaga kesehatan,” tambahnya.

Dorong Pendampingan Berkelanjutan

Tim Pengabmas berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat menjadi awal terbentuknya pola pendampingan ibu hamil yang lebih berkelanjutan di tingkat desa.

Dengan meningkatnya kompetensi kader dalam pengelolaan Posyandu ILP dan dukungan terhadap asuhan kehamilan, kader diharapkan dapat berperan lebih aktif dalam mengidentifikasi kebutuhan ibu hamil di lingkungannya, memberikan edukasi, mendorong kunjungan pemeriksaan kehamilan, serta menghubungkan keluarga dengan Puskesmas dan tenaga kesehatan.

“Harapan kami, setelah kegiatan ini kader tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan Posyandu dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Keberlanjutan pendampingan menjadi hal penting agar pengetahuan yang diperoleh benar-benar memberikan manfaat bagi ibu hamil dan keluarga,” kata Melinda.

Menurut tim, keberhasilan pendampingan ibu hamil membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader Posyandu, dan masyarakat.

Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi

Kegiatan pemberdayaan kader tersebut sekaligus menjadi bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menerapkan ilmu dan kompetensi kebidanan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.

Kolaborasi antara Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Kupang dan Program Studi D III PJJ Kebidanan menunjukkan komitmen dosen dalam memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, sebanyak 25 kader Posyandu Desa Oemasi diharapkan semakin siap menjalankan perannya dalam mendukung Posyandu ILP serta memberikan edukasi dan pendampingan kepada ibu hamil sesuai tugas dan kewenangannya.

Pada akhirnya, pemberdayaan kader diharapkan dapat mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, meningkatkan kesadaran ibu hamil dalam menjaga kesehatan selama kehamilan, serta memperkuat upaya deteksi dini dan pencegahan masalah kesehatan ibu di tingkat keluarga dan desa. (HNN)