Berbekal derma mulai dari Rp20 ribu, satu sak semen, tenaga, dan doa, umat Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli berjuang membangun rumah ibadah di perbatasan Indonesia–Timor Leste.
AMFOANG TIMUR, HARIAN NTT NEWS – Warisan iman yang telah bertumbuh sejak 1911 menjadi semangat bagi umat Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk membangun gereja baru di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor Leste.
Di tengah keterbatasan ekonomi, sulitnya akses transportasi, dan mahalnya harga material bangunan, umat memilih untuk tidak menyerah. Mereka bergotong royong, menyumbangkan uang sesuai kemampuan, menyediakan material, hingga mengerahkan tenaga demi menghadirkan rumah ibadah yang lebih layak bagi generasi mendatang.
Pemandangan di lokasi pembangunan memperlihatkan semangat kebersamaan tersebut. Sejumlah umat bekerja mengaduk semen dan mengangkut pasir, sementara umat lainnya membantu menyiapkan makanan bagi para pekerja. Semua dilakukan dengan sukarela, berlandaskan iman dan harapan agar pembangunan gereja dapat diselesaikan.
Pastor Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli, Romo Yos Binsasi, Pr, mengatakan, rencana pembangunan gereja baru telah disepakati bersama Dewan Pastoral Paroki dan seluruh umat sejak 2024.
Menurutnya, gereja lama yang dibangun pada 1973 kini telah berusia lebih dari 50 tahun. Kondisi bangunan mulai mengalami kerusakan, termasuk dinding yang retak dan atap yang bocor. Kapasitas gereja juga tidak lagi memadai untuk menampung umat, terutama saat perayaan Natal dan Paskah.
“Melihat kondisi ini, sejak tahun 2024 lalu, kami bersama Dewan Pastoral Paroki dan seluruh umat sepakat untuk membangun gereja baru. Gereja yang lebih besar, lebih kokoh, dan lebih layak sebagai tempat umat bertemu dengan Tuhan,” ungkap Romo Yos.
Dari Rp20 Ribu hingga Satu Sak Semen
Pembangunan gereja di Oepoli bukanlah pekerjaan mudah. Wilayah tersebut memiliki tantangan geografis dan akses transportasi yang berdampak pada biaya pengadaan material bangunan.
Romo Yos menjelaskan, harga material di Oepoli dapat mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan harga di Kota Kupang akibat biaya pengangkutan dan kondisi medan yang sulit. Sementara itu, kemampuan keuangan paroki masih terbatas.
Dalam situasi tersebut, umat mengandalkan sumbangan yang dikumpulkan secara bertahap melalui kolekte khusus pembangunan setiap minggu.
Nilai sumbangan beragam. Ada umat yang memberikan Rp20.000, ada yang menyumbang Rp50.000, dan ada pula yang menyerahkan satu sak semen dari hasil penjualan jagung atau ternak babi.
Bagi umat yang tidak memiliki uang, tenaga menjadi bentuk sumbangan yang tidak kalah berarti. Mereka membantu pekerjaan pembangunan sesuai kemampuan masing-masing.
“Kami tidak menunggu donatur besar datang. Kami mulai dari apa yang kami punya, dari derma umat,” tegas Romo Yos.
Baginya, setiap bantuan merupakan bagian penting dari perjuangan bersama. Ia percaya bahwa semangat dan ketulusan umat akan membuka jalan bagi dukungan dari berbagai pihak.
“Saya optimistis, semangat umat sejak 2024 untuk membangun gereja ini pasti didukung oleh Tuhan lewat berbagai cara. Tuhan tidak akan tinggal diam. Tuhan akan mengutus orang-orang baik untuk membantu kami,” tuturnya.
Warisan Iman yang Bertumbuh Sejak 1911
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, gereja baru ini memiliki makna sejarah bagi kehidupan umat Katolik di Oepoli.
Romo Yos menjelaskan, berdasarkan sejarah yang diwariskan dalam komunitas setempat, iman Katolik telah bertumbuh di Oepoli sejak 1911, jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945.
Pada masa itu, terjadi perpindahan masyarakat dari wilayah seberang perbatasan yang kini dikenal sebagai Timor Leste menuju Oepoli. Dalam penuturan adat Dawan setempat, mereka dikenal dengan sebutan Kaes Metan, yang merujuk pada saudara-saudara yang datang dari seberang.
Masyarakat tersebut membawa iman Katolik yang telah mereka anut. Di tempat yang baru, mereka mempertahankan kehidupan iman di tengah keterbatasan dan membangun tempat ibadah sederhana.
Perjalanan panjang itu kemudian berlanjut dari generasi ke generasi. Gereja yang dibangun pada 1973 menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan kehidupan umat sebelum akhirnya muncul kesepakatan untuk membangun gereja baru pada 2024.
“Jadi, iman di Oepoli ini bukan iman kemarin sore. Ini iman yang sudah diperjuangkan dengan darah dan air mata sejak 1911. Gereja yang dibangun tahun 1973 itu adalah buah dari perjuangan para leluhur Kaes Metan. Sekarang, kami generasi penerus punya tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan itu dengan membangun gereja yang baru,” jelas Romo Yos.
Ia memandang pembangunan gereja baru sebagai bentuk tanggung jawab generasi sekarang untuk menjaga warisan iman sekaligus menyediakan tempat ibadah yang lebih layak bagi anak-anak dan generasi mendatang.
Menurutnya, keberadaan Oepoli sebagai wilayah perbatasan juga memiliki arti penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, penguatan kehidupan keagamaan, persaudaraan, dan kebersamaan masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan sosial di kawasan tapal batas.
Doa dan Gotong Royong di Tengah Keterbatasan
Perjuangan umat tidak terlepas dari berbagai tantangan. Selain mahalnya material dan keterbatasan dana, pembangunan juga menghadapi kendala ketersediaan tenaga tukang terampil serta kondisi cuaca yang tidak menentu di Amfoang Timur.
Meski demikian, umat tetap berusaha menjaga semangat melalui kegiatan doa bersama. Doa novena dan Rosario dilaksanakan pada malam hari di lokasi pembangunan sebagai bentuk dukungan rohani bagi kelancaran pekerjaan.
Bagi mereka, pembangunan gereja merupakan karya bersama yang membutuhkan ketekunan, pengorbanan, dan dukungan dari banyak pihak.
Karena itu, Romo Yos melalui Harian NTT News mengajak masyarakat Oepoli yang berada di perantauan, para donatur, pemerintah daerah, anggota legislatif, serta para pengusaha Katolik di NTT untuk turut mengambil bagian dalam pembangunan tersebut.
“Kepada anak-anak Oepoli yang ada di perantauan, di Kupang, di Jakarta, di Surabaya, di Kalimantan, di Malaysia, kepada para donatur, kepada Bapak Bupati Kupang, kepada para anggota dewan, kepada para pengusaha Katolik di seluruh NTT, kami memohon uluran tangan kasih. Bantulah kami selesaikan rumah Tuhan ini di perbatasan,” ajaknya.
Ia menegaskan, bantuan tidak harus dalam jumlah besar. Sumbangan berupa satu sak semen, satu batang besi, uang Rp100.000, maupun dukungan doa memiliki arti bagi kelanjutan pembangunan gereja.
“Bantuan sekecil apa pun, satu sak semen, satu batang besi, Rp100.000, bahkan hanya doa, sangat berarti bagi kami. Kami akan catat setiap nama donatur dan kami doakan setiap hari dalam misa kudus. Tuhan yang akan membalas berlipat ganda,” pungkasnya.
Harapannya untuk Generasi Mendatang
Bagi umat Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli, pembangunan gereja baru menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan keteguhan iman yang diwariskan para pendahulu.
Sumbangan yang terkumpul sedikit demi sedikit menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Umat berharap dukungan dari berbagai pihak dapat mempercepat penyelesaian pembangunan sehingga gereja baru tersebut dapat digunakan sebagai tempat ibadah yang aman, nyaman, dan mampu menampung umat dengan lebih baik.
Lebih dari itu, gereja baru diharapkan menjadi simbol keberlanjutan warisan iman yang menurut penuturan setempat telah bertumbuh sejak 1911, sekaligus menjadi ruang persaudaraan bagi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.
Masyarakat atau donatur yang ingin berpartisipasi dalam pembangunan dapat menghubungi Sekretariat Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli atau Pastor Paroki Romo Yos Binsasi, Pr, secara langsung untuk memperoleh informasi mengenai mekanisme bantuan.
Di Oepoli, perjuangan membangun rumah Tuhan terus berlanjut. Dari sumbangan Rp20.000, satu sak semen, tenaga, hingga doa yang dipanjatkan bersama, umat berusaha meneruskan warisan iman agar tetap hidup bagi generasi yang akan datang. (Inyo)
Editor : Marcho


















