151 Anak Sambut Komuni Pertama, Gereja Mamsena Dipenuhi Cahaya dan Sukacita

Mengenakan pakaian putih dan membawa lilin, anak-anak dari sembilan sekolah dasar menjalani momen sakral sebagai awal perjalanan iman untuk semakin dekat dengan Yesus dan Ekaristi.

MAMSENA, Hariannttnews.com — 151 anak berdiri dalam barisan dengan pakaian serba putih di Gereja Paroki Santo Fransiskus Xaverius Mamsena, Kamis (13/8). Sebagian mengenakan busana adat yang berpadu dengan pakaian putih, menghadirkan pemandangan yang sederhana sekaligus penuh makna.

Wajah-wajah polos itu menyimpan beragam rasa. Ada yang tampak tegang, ada yang tersenyum, dan ada pula yang khusyuk mengikuti setiap rangkaian perayaan.

Untuk pertama kalinya, mereka menyambut Sakramen Komuni Pertama dan menerima Tubuh serta Darah Kristus dalam perayaan Ekaristi.

Di bangku umat, para orang tua menyaksikan dengan penuh perhatian. Senyum dan tatapan haru mengiringi langkah anak-anak mereka menuju altar.

Bagi sebagian orang tua, momen tersebut bukan hanya sebuah perayaan liturgi. Di dalamnya terdapat doa, penantian, dan harapan agar anak-anak mereka terus bertumbuh dalam iman.

Perayaan Komuni Pertama ini mengangkat tema “Biarlah Anak-Anak Datang kepada-Ku.”

Tema tersebut terasa begitu dekat dengan suasana perayaan. Gereja dipenuhi anak-anak yang datang untuk semakin mengenal Yesus dan mengalami secara lebih dekat makna Ekaristi dalam kehidupan mereka.

Misa agung dipimpin Pater Ricky Montero SVD, dengan Pater Iden sebagai pengkhotbah. Hadir pula para imam, suster, katekis, kepala sekolah, guru, orang tua, serta seluruh umat Paroki Mamsena.

Sebanyak 151 anak yang menerima Komuni Pertama berasal dari sembilan sekolah dasar yang berada di wilayah pelayanan Paroki Mamsena.

Langkah mereka menuju altar tidak terjadi begitu saja. Selama beberapa bulan, anak-anak tersebut telah menjalani pembinaan iman, katekese intensif, serta latihan liturgi. Mereka dipersiapkan agar tidak hanya memahami tata cara perayaan, tetapi juga menghayati makna menerima Komuni Kudus.

Hari Kamis itu menjadi buah dari proses panjang tersebut. Ketika prosesi berlangsung, lilin-lilin yang mereka genggam menjadi simbol kecil tentang terang yang diharapkan terus menyala dalam kehidupan mereka.

Dengan langkah perlahan, anak-anak mengikuti rangkaian liturgi. Mereka berusaha menjaga sikap dan perhatian di tengah suasana gereja yang dipenuhi umat.

Kemudian tibalah saat yang paling dinantikan.
Satu per satu mereka maju menuju altar.
Untuk pertama kalinya, mereka menerima Komuni Kudus.

Suasana gereja seketika terasa semakin hening. Di tengah kesakralan perayaan, orang tua menyaksikan dari tempat mereka masing-masing. Sebagian mengabadikan momen tersebut, sementara yang lain memilih menikmati setiap detik dengan penuh haru.
Tidak sedikit mata yang berkaca-kaca.

Dalam homilinya, Pater Iden mengajak anak-anak untuk bersukacita karena pada hari itu mereka dipersatukan secara istimewa dengan Yesus melalui Ekaristi.

Ia mengingatkan bahwa Komuni Pertama bukanlah akhir dari pembinaan iman, melainkan awal perjalanan yang harus terus dijaga.

“Anak-anakku yang terkasih, hari ini Yesus datang secara nyata dalam hatimu. Jagalah hati itu tetap bersih dengan rajin berdoa, taat kepada orang tua dan guru, serta suka menolong teman. Jadilah anak-anak terang,” ujar Pater Iden.

Pesan tersebut juga diarahkan kepada orang tua dan guru agar terus menjadi pendamping bagi anak-anak dalam perjalanan iman mereka.

“Komuni Pertama ini adalah awal. Mari kita terus membimbing mereka agar Ekaristi menjadi pusat hidup mereka,” tegasnya.

Pater Ricky Montero SVD menyampaikan apresiasi kepada para katekis, guru agama, dan orang tua yang telah mendampingi anak-anak selama proses persiapan.

Menurutnya, keberhasilan 151 anak menerima Komuni Pertama tidak terlepas dari kerja sama antara Gereja, keluarga, dan sekolah.

“Ini bukti bahwa iman di Paroki Mamsena terus bertumbuh. Anak-anak ini adalah harapan Gereja masa depan,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pertumbuhan iman anak bukan hanya tanggung jawab satu pihak.

Gereja memberikan pendampingan. Sekolah memperkuat pendidikan. Sementara keluarga menjadi tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar berdoa, mengasihi, menghormati sesama, dan menghidupi nilai-nilai Kristiani.

Setelah perayaan Ekaristi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemberkatan khusus bagi anak-anak penerima Komuni Pertama, penyerahan sertifikat, serta sesi foto bersama. Anak-anak kemudian menampilkan pujian dan tarian sebagai ungkapan syukur.

Jika beberapa jam sebelumnya mereka tampak tegang menanti prosesi, kini suasana berubah menjadi lebih ceria. Orang tua pun turut larut dalam kebahagiaan setelah menyaksikan salah satu momen penting dalam perjalanan iman anak-anak mereka.

Ketua Panitia Komuni Pertama menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, mulai dari panitia, donatur, sekolah hingga umat yang memberikan dukungan dalam bentuk doa maupun dana.

Ketika perayaan akhirnya selesai, lilin-lilin telah dipadamkan. Anak-anak kembali ke rumah bersama keluarga masing-masing.
Namun, perjalanan iman mereka justru baru dimulai.

Komuni Pertama menjadi langkah awal untuk semakin mencintai Yesus, tekun mengikuti Ekaristi, serta belajar menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 151 anak itu diharapkan mampu membawa pengalaman iman dari dalam gereja menuju lingkungan tempat mereka bertumbuh di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Sebab, di balik pakaian putih, lilin yang menyala dan prosesi menuju altar, tersimpan sebuah harapan besar.

Anak-anak Paroki Mamsena tidak hanya datang kepada Yesus pada hari itu, tetapi terus berjalan bersama-Nya dalam setiap tahap kehidupan.
Dan di Gereja Santo Fransiskus Xaverius Mamsena, Kamis itu, sukacita 151 anak menjadi pengingat bahwa masa depan Gereja sedang tumbuh dengan langkah-langkah kecil, hati yang polos, dan iman yang terus dibimbing. (Inyo)

Editor : Marcho