Melalui Bootcamp UMKM Hijau 2026, pelaku usaha dibekali strategi bisnis berkelanjutan, pemanfaatan limbah, efisiensi sumber daya, hingga akses pembiayaan hijau.
KUPANG, Hariannttnews.com – Limbah produksi tidak lagi dipandang semata sebagai barang buangan. Melalui program LONTAR HIJAU NTT 2026, Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Kota Kupang mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
Program bertajuk “LONTAR HIJAU NTT: Loncatan Transformasi, Akselerasi UMKM Hijau Provinsi Nusa Tenggara Timur” tersebut dibuka di Kota Kupang dan berlangsung selama tiga hari, 12–14 Agustus 2026.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT serta Dinas Koperasi dan UKM Kota Kupang. Program dirancang untuk mendorong UMKM NTT menjadi lebih efisien, inovatif, kompetitif, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Ari Setyo Wibowo, mengatakan transformasi hijau dapat dimulai dari langkah sederhana yang memberikan manfaat langsung terhadap efisiensi usaha.
“Transformasi hijau bukanlah sebuah beban perubahan yang rumit, melainkan langkah cerdas yang dapat dimulai dari hal-hal sederhana dan terukur,” ujar Ari.
Menurutnya, efisiensi penggunaan air dan energi, pemanfaatan bahan baku secara bertanggung jawab, penataan ruang usaha, serta pengolahan kembali limbah produksi dapat membantu UMKM menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan daya saing.
Limbah Tenun Diolah Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Salah satu materi yang menjadi perhatian dalam bootcamp adalah penerapan ekonomi sirkular, yakni upaya memaksimalkan pemanfaatan sumber daya agar produk dan material dapat digunakan kembali dan memiliki nilai tambah.
Para peserta mendapatkan pelatihan praktik pengembangan produk kreatif dengan memanfaatkan berbagai material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah, seperti benang, perca kain tenun khas NTT, plastik, dan kertas.
Pemanfaatan perca kain tenun menjadi produk kreatif dinilai memiliki potensi ganda. Selain mengurangi limbah, langkah tersebut dapat menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus mempertahankan identitas budaya lokal.
Dengan demikian, praktik ekonomi sirkular tidak hanya berbicara mengenai aspek lingkungan, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk UMKM yang memiliki nilai ekonomi dan karakter khas daerah.
UMKM Dibekali Peta Jalan Bisnis Hijau
Selain praktik pemanfaatan limbah, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai Standar Industri Hijau, termasuk manajemen bahan baku, efisiensi energi dan air, penggunaan kemasan ramah lingkungan, serta penghitungan pengurangan emisi gas rumah kaca.
Peserta kemudian diarahkan menyusun Green Business Model Canvas dan Green Business Action Plan sebagai peta jalan untuk menerapkan prinsip keberlanjutan dalam operasional usaha.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT, Linus Lusi, menegaskan bahwa penguatan kapasitas UMKM membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Penguatan kapasitas dan daya saing UMKM melalui praktik usaha yang efisien dan bersih merupakan prioritas bersama,” kata Linus.
Ia menyebut kolaborasi pemerintah daerah, BI, kementerian/lembaga, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan pelaku UMKM menjadi fondasi penting untuk menghadirkan pendampingan yang berkelanjutan.
Dibuka Akses Menuju Pembiayaan Hijau
Dalam pelaksanaannya, program LONTAR HIJAU NTT juga menggandeng Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian RI sebagai fasilitator utama.
Kolaborasi tersebut mencakup rangkaian pengembangan UMKM, mulai dari pelatihan, pendampingan, pengembangan produk, hingga membuka peluang akses terhadap pembiayaan hijau (green financing) dan kesiapan menuju sertifikasi industri hijau.
BI dan pemerintah daerah berharap peserta tidak berhenti pada pelatihan, tetapi mampu menerapkan action plan yang telah disusun dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Penerapan prinsip bisnis berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha, memperkuat kepercayaan konsumen, memperluas akses pasar, serta membuka peluang pembiayaan bagi UMKM NTT.
Pada akhirnya, LONTAR HIJAU NTT 2026 diarahkan menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan UMKM daerah menghadapi tuntutan pasar yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan, sekaligus menjadikan potensi limbah sebagai peluang ekonomi baru berbasis kreativitas dan kearifan lokal. (*/HNN)


















