Pemkot Kupang Ajak Anak Cerdas Bermedia Sosial dan Jaga Privasi

Hengky Malelak mengingatkan siswa agar tidak mudah percaya hoaks, menghindari cyberbullying, serta menjaga data pribadi saat beraktivitas di ruang digital.

KUPANG,Hariannttnews.com — Pemerintah Kota Kupang mengajak anak-anak dan pelajar untuk semakin cerdas, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial serta menjaga privasi di ruang digital. Ajakan tersebut disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kota Kupang, Hengky C. Malelak, saat menutup kegiatan Digital Literacy Goes To School Tahap II yang berlangsung di T-More Hotel, Jumat (4/9).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kupang Ariantje M. Baun, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kupang dr. Marsiana Y. Halek, Koordinator Mafindo Kupang, para guru pendamping, serta siswa SD dan SMP se-Kota Kupang.

Dalam sambutannya, Hengky menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan literasi digital tersebut. Menurutnya, berakhirnya kegiatan bukan berarti pembelajaran tentang literasi digital ikut berhenti.

Ia menilai pemahaman yang diperoleh siswa selama kegiatan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena ruang digital telah menjadi bagian dari aktivitas anak-anak, mulai dari mencari informasi, berkomunikasi hingga berinteraksi dengan orang lain.

“Ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan kalian. Di sana kalian belajar mencari informasi, berkomunikasi, berteman, dan beraktivitas,” ujar Hengky.

Waspadai Cyberbullying dan Hoaks

Hengky mengingatkan, perkembangan teknologi digital tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga menghadirkan sejumlah risiko bagi anak dan remaja. Risiko tersebut antara lain cyberbullying, penipuan, penyalahgunaan data pribadi, hingga paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak. Karena itu, ia menekankan bahwa kemampuan menggunakan teknologi harus diikuti dengan kemampuan berpikir kritis, mengendalikan diri, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan di ruang digital.

“Anak yang hebat di era digital bukan hanya soal pintar menggunakan teknologi, tetapi juga tahu kapan harus berpikir, kapan harus berhenti, dan kapan harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Ia juga mengajak siswa untuk tidak menjadi bagian dari praktik perundungan di media sosial. Jika menemukan teman yang menjadi korban bullying, para siswa diminta tidak ikut menertawakan atau mempermalukannya. Menurut Hengky, interaksi di dunia maya tetap harus mengedepankan nilai kemanusiaan karena setiap akun media sosial merepresentasikan seseorang yang memiliki perasaan, keluarga, dan masa depan.

Saring Informasi Sebelum Membagikan

Selain mengingatkan bahaya cyberbullying, Hengky meminta para siswa tidak mudah mempercayai informasi hanya karena informasi tersebut viral di media sosial. Setiap informasi, kata dia, perlu diperiksa kebenaran dan sumbernya sebelum dibagikan.

“Sebelum menekan share, berhenti sejenak. Tanyakan, benar atau tidak, sumbernya jelas atau tidak, dan perlu atau tidak untuk saya sebarkan,” katanya.

Ia mengingatkan siswa agar tidak sampai menjadi korban hoaks sekaligus ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kepada orang lain.

Jaga Data Pribadi di Internet

Hengky juga menekankan pentingnya menjaga privasi saat menggunakan internet. Para siswa diminta tidak sembarangan membagikan informasi pribadi, seperti alamat rumah, nomor telepon, lokasi, aktivitas sehari-hari, maupun kata sandi. Menurutnya, internet seharusnya digunakan sebagai ruang untuk belajar, berkarya, dan melakukan berbagai aktivitas positif, bukan menjadi tempat membagikan seluruh informasi pribadi.

“Internet boleh menjadi tempat menunjukkan karya kita. Tetapi jangan sampai menjadi tempat kita menyerahkan seluruh kehidupan kita,” tuturnya.

Lebih lanjut, Hengky mengatakan Pemerintah Kota Kupang, sekolah, dan keluarga memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak. Ia menilai edukasi dan pendampingan terkait penggunaan teknologi perlu diberikan secara berkelanjutan, terutama karena anak-anak semakin mudah mengakses berbagai platform digital.

“Anak-anak sekolah harus menjadi perhatian. Materi seperti ini sebaiknya terus diberikan sejak awal, sehingga mereka memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menjaga diri ketika menggunakan teknologi,” katanya.

Hengky berharap deklarasi yang dilakukan dalam kegiatan Digital Literacy Goes To School Tahap II tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi komitmen yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak para siswa untuk menolak perundungan, menyaring informasi, menjaga privasi, serta memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang positif.

“Selamat menjadi anak hebat di ruang digital. Jadilah generasi yang cerdas menggunakan teknologi, bijak dalam berkomunikasi, mampu menjaga diri, serta mampu menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya dan berbuat baik,” pungkas Hengky.

(PSKK/HNN)