Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Kupang membekali kader dengan pengetahuan tanda bahaya, rujukan, nifas, dan perawatan bayi baru lahir.
KABUPATEN KUPANG, Hariannttnews.com — Upaya meningkatkan kesiapan ibu dan keluarga dalam menghadapi persalinan terus diperkuat Poltekkes kemenkes Kupang melalui pemberdayaan masyarakat. Salah satunya telah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pemberdayaan kader di Desa Oelnasi, wilayah Tarus, Kabupaten Kupang, pada Sabtu, 22 Agustus 2026 lalu.
Kegiatan tersebut berfokus pada penguatan kapasitas kader dalam memberikan edukasi, melakukan pendampingan ibu bersalin, serta mendukung perawatan ibu setelah melahirkan dan bayi baru lahir.
Kesehatan ibu dan bayi menjadi salah satu perhatian penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Pengetahuan mengenai perencanaan persalinan, tanda bahaya kehamilan dan persalinan, kesiapan rujukan, hingga perawatan masa nifas dinilai penting untuk membantu mencegah keterlambatan penanganan ketika terjadi kondisi yang membutuhkan pertolongan medis.
Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang, Namsyah Baso, SST., M.Keb., sebagai ketua tim mengatakan bahwa kader perlu mendapatkan pembekalan mengenai birth preparedness atau kesiapan menghadapi persalinan, pengenalan tanda bahaya kehamilan dan persalinan, perencanaan rujukan, perawatan ibu nifas, perawatan bayi baru lahir, inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif, serta pencegahan infeksi.
Namsyah menambahkan, peningkatan kapasitas kader menjadi bagian penting karena kader merupakan salah satu unsur masyarakat yang memiliki kedekatan langsung dengan ibu hamil dan keluarga.
“Kader perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar mampu memberikan edukasi dan pendampingan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, maupun keluarga secara tepat. Dengan kapasitas yang semakin baik, kader diharapkan dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi persalinan,” ujar Namsyah kepada media ini, Senin (5/10/2026)
Menurutnya, kesiapan menghadapi persalinan tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar. Karena itu, edukasi mengenai tanda bahaya dan kesiapan rujukan menjadi salah satu materi penting yang diberikan kepada kader.
Kader diarahkan agar mampu membantu ibu dan keluarga mengenali kondisi yang membutuhkan pertolongan tenaga kesehatan.
Sementara itu, Melinda R. Wariyaka, SST., M.Keb., menekankan pentingnya pendampingan yang berkelanjutan, terutama pada masa setelah persalinan.
“Masa nifas dan periode awal kehidupan bayi merupakan fase yang membutuhkan perhatian. Kader perlu memahami hal-hal dasar terkait perawatan ibu dan bayi, termasuk ASI eksklusif, inisiasi menyusu dini, kebersihan, pencegahan infeksi, serta pemantauan kondisi ibu dan bayi,” katanya.
Pendekatan dilakukan melalui sosialisasi, penyampaian materi secara interaktif, diskusi, simulasi, dan demonstrasi, agar kader tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat diterapkan ketika melakukan pendampingan di lingkungan tempat tinggalnya.

Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang lainnya, Hardian Bomanto, SKM., M.Kes., menambahkan bahwa keberlanjutan pembinaan kader penting untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dapat terus diperbarui dan diterapkan di tengah masyarakat.
“Pemberdayaan kader tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat diterapkan dalam pendampingan ibu dan keluarga di masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Hardian.
Ia menegaskan, kolaborasi antara kader, pemerintah desa, tenaga kesehatan, puskesmas, keluarga, dan perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat edukasi kesehatan maternal di tingkat masyarakat.
Kegiatan pemberdayaan kader menjadi sangat penting karena kader akan lebih memahami pentingnya perencanaan persalinan, pengenalan tanda bahaya, kesiapan menghadapi kondisi darurat, serta pendampingan ibu pada masa nifas.
Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi kader sebagai ujung tombak edukasi kesehatan di masyarakat. Kader diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong ibu dan keluarga untuk lebih aktif mempersiapkan persalinan serta segera mencari pertolongan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda bahaya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi langkah awal untuk mendorong pelaksanaan kelas ibu bersalin secara lebih terstruktur dan berkelanjutan di Desa Oelnasi. Dengan adanya kader yang telah mendapatkan pembekalan, informasi mengenai kesehatan maternal diharapkan dapat diteruskan kepada ibu hamil dan keluarga secara lebih dekat dan mudah dipahami.
Keberlanjutan program menjadi perhatian para kader. Mereka berharap pelatihan dan pendampingan dapat dilaksanakan secara berkala sehingga kemampuan kader dalam memberikan edukasi dan melakukan deteksi dini dapat terus ditingkatkan.
Pemberdayaan kader di Desa Oelnasi pada akhirnya tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan individu, tetapi juga membangun kesiapan masyarakat dalam menghadapi persalinan dan masa nifas.
Melalui sinergi lintas sektor serta pembinaan yang berkesinambungan, kader diharapkan semakin percaya diri dalam menjalankan perannya, sementara ibu dan keluarga semakin siap menghadapi persalinan serta mampu mengambil keputusan yang tepat ketika muncul kondisi yang membutuhkan pertolongan kesehatan. (HNN)


















