Hampir 10 Tahun Dibangun, Gereja GMIT Imanuel Kefamenanu Butuh Uluran Tangan untuk Rampungkan Kubah

Pembangunan Gedung Gereja GMIT Imanuel Kefamenanu, Kabupaten TTU, yang telah mencapai sekitar 90–95 persen. (Foto : Inyo/Harian NTT News/Sabtu 10 Oktober 2026).

Pembangunan gereja yang dimulai sejak 2016 itu kini mencapai 90–95 persen. Panitia mengajak jemaat, pemerintah, pengusaha, dan diaspora TTU bergotong royong menyelesaikan kubah gereja.

KEFAMENANU, Hariannttnews.com – Perjuangan panjang yang dilandasi iman, ketekunan, dan semangat gotong royong mengantarkan pembangunan Gedung Gereja GMIT Imanuel Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), mendekati tahap penyelesaian.

Setelah hampir satu dekade dikerjakan sejak 2016, pembangunan gereja yang berada di pusat Kota Kefamenanu tersebut kini telah mencapai sekitar 90 hingga 95 persen. Namun, masih ada satu bagian penting yang membutuhkan dukungan, yakni penyelesaian kubah gereja.

Ketua Seksi Dana Pembangunan Gereja GMIT Imanuel Kefamenanu, Imanuel Jahamou, mengungkapkan bahwa pembangunan gereja tersebut dilakukan secara bertahap melalui dukungan dan pengorbanan jemaat.

Saat ditemui Harian NTT News di Kefamenanu, Sabtu (10/10/2026), ia menjelaskan bahwa pembangunan tidak ditopang oleh pendanaan besar dari satu pihak, melainkan melalui kolekte, persembahan syukur, bazar, lelang kasih, dan berbagai bentuk partisipasi jemaat.

Dibangun Sejak 2016 dengan Semangat Gotong Royong

Imanuel menceritakan, keputusan membangun gedung gereja yang lebih representatif menjadi awal perjuangan jemaat GMIT Imanuel Kefamenanu pada 2016.

Sejak saat itu, pembangunan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan yang tersedia. Meski membutuhkan waktu panjang, jemaat tetap berusaha agar pembangunan dapat terus berjalan.

“Umat Gereja Imanuel berjibaku dengan doa dan perjuangan pelan-pelan sejak tahun 2016 hingga saat ini. Kami tidak punya dana besar. Kami hanya punya iman. Setiap minggu kami kumpulkan dari kolekte, dari sumbangan syukur jemaat, dari hasil bazar, dari lelang kasih. Pelan-pelan, tetapi pasti, Tuhan cukupkan,” ungkap Imanuel.

Menurutnya, perjalanan pembangunan tersebut menjadi bukti nyata kebersamaan jemaat dalam mewujudkan rumah ibadah yang lebih baik.

Setiap tahapan dikerjakan dengan melibatkan partisipasi berbagai kalangan. Kaum bapak turut membantu pekerjaan fisik, kaum ibu menyiapkan kebutuhan konsumsi bagi para pekerja, sedangkan kaum muda ikut membantu mengangkut material bangunan.

“Kalau dilihat ke belakang, ini mujizat. Dari pondasi, pengecoran tiang, pemasangan dinding, pemasangan atap baja ringan, pengecatan, pemasangan keramik, semua kami kerjakan bersama. Gotong royong. Ini gereja yang dibangun dengan cinta,” tuturnya.

Progres Capai 90-95 Persen, Kubah Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Saat ini, sebagian besar pekerjaan fisik gereja telah diselesaikan. Dinding dan lantai keramik telah terpasang, mimbar telah berdiri, sementara instalasi listrik dan perangkat tata suara juga disebut telah disiapkan.

Meski demikian, penyelesaian kubah masih menjadi pekerjaan penting yang harus dituntaskan sebelum seluruh pembangunan dinyatakan selesai.

Imanuel menjelaskan, pengerjaan kubah membutuhkan konstruksi, material, dan tenaga kerja khusus. Kondisi tersebut membuat kebutuhan biaya untuk menyelesaikan bagian itu tidak sedikit.

“Tinggal kubah gereja yang lagi diusahakan. Kubah ini adalah simbol keagungan Tuhan. Posisinya di atas, paling terlihat dari jauh. Namun, karena posisinya tinggi dan membutuhkan konstruksi khusus, material khusus, serta tukang khusus, biayanya cukup besar sehingga kami membutuhkan uluran tangan para penderma,” jelasnya.

Ia mengakui, dana pembangunan yang tersedia semakin terbatas setelah digunakan untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan di bagian dalam gereja.

Karena itu, panitia berharap dukungan dari berbagai pihak agar pekerjaan kubah dapat segera diselesaikan.

“Kami dari panitia sudah berusaha semaksimal mungkin. Dana kas pembangunan sudah menipis karena digunakan untuk menyelesaikan bagian dalam gereja. Untuk kubah ini, kami benar-benar berharap ada mujizat lewat para donatur,” katanya.

Ajak Jemaat, Pemerintah, dan Diaspora TTU Berpartisipasi

Melalui Harian NTT News, Imanuel mengajak jemaat GMIT, pemerintah daerah, anggota DPRD, kalangan pengusaha, serta masyarakat TTU yang berada di perantauan untuk turut mengambil bagian dalam penyelesaian pembangunan gereja tersebut.

Ia berharap semangat kebersamaan yang telah mengiringi pembangunan sejak 2016 dapat kembali menggerakkan lebih banyak pihak untuk membantu penyelesaian kubah.

“Kami memanggil dengan kasih kepada seluruh jemaat GMIT se-Klasis TTU, Bapak Bupati TTU, para anggota DPRD, para pengusaha di Kefamenanu, serta anak-anak TTU yang berada di perantauan, baik di Kupang, Jakarta, Surabaya, Kalimantan maupun di luar negeri. Mari bantu kami menyelesaikan rumah Tuhan ini,” ajaknya.

Ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan tidak harus dalam jumlah besar. Menurutnya, setiap bentuk dukungan, baik berupa uang, material bangunan, maupun doa, memiliki arti bagi kelanjutan pembangunan.

“Berapa pun bantuan Bapak, Mama, saudara-saudari, sangat berarti bagi kami. Rp50.000, Rp100.000, satu sak semen, atau doa sekalipun, itu sangat berarti. Tuhan yang akan membalas berlipat ganda,” ujarnya.

Terkait pengelolaan sumbangan, Imanuel menyampaikan bahwa panitia berkomitmen mencatat setiap bantuan yang diterima dan mempertanggungjawabkannya secara terbuka kepada jemaat. Informasi mengenai sumbangan tersebut, menurut dia, akan diumumkan melalui papan informasi gereja.

Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi, panitia membuka kesempatan untuk menyalurkan bantuan melalui Sekretariat Panitia Pembangunan Gereja GMIT Imanuel Kefamenanu di pusat Kota Kefamenanu atau menghubungi langsung Imanuel Jahamou selaku Ketua Seksi Dana Pembangunan.

Harapan Menjadi Berkat bagi Kota Kefamenanu

Penyelesaian kubah diharapkan menjadi salah satu tahapan akhir pembangunan Gedung Gereja GMIT Imanuel Kefamenanu sehingga gereja tersebut dapat segera dipersiapkan untuk peresmian.

Bagi jemaat, penyelesaian pembangunan ini bukan sekadar mewujudkan bangunan fisik, melainkan juga menjadi simbol perjalanan panjang iman, pengorbanan, dan persatuan yang telah dijaga selama bertahun-tahun.

Panitia berharap gereja tersebut kelak menjadi tempat ibadah yang nyaman bagi jemaat sekaligus membawa manfaat bagi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat di Kota Kefamenanu.

Perjuangan yang dimulai pada 2016 itu kini memasuki tahap penting. Dengan dukungan dan kepedulian berbagai pihak, jemaat berharap kubah gereja dapat segera diselesaikan sehingga rumah ibadah yang dibangun melalui semangat gotong royong tersebut dapat semakin utuh menjadi tempat untuk memuliakan nama Tuhan Yesus Kristus. (Inyo)

Editor : Marcho.