Berjarak sekitar 15 kilometer dari Kalabahi, Pantai Mali menawarkan pengalaman wisata bahari yang unik melalui kesempatan mengamati dugong di habitat alaminya.
ALOR, Hariannttnews.com – Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki kekayaan wisata bahari yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan. Salah satunya adalah Pantai Mali di Kecamatan Kabola, tempat pengunjung berkesempatan menyaksikan dugong atau duyung di habitat alaminya.
Di antara daya tarik tersebut, ada seekor dugong yang dikenal masyarakat setempat dengan nama Mawar. Kehadirannya menjadi perhatian wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda saat menjelajahi keindahan laut Alor.
Pantai Mali berjarak sekitar 15 kilometer dari Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, dengan waktu tempuh sekitar 20–25 menit menggunakan kendaraan. Akses jalan yang relatif baik membuat destinasi ini dapat dijangkau wisatawan yang ingin menikmati suasana pantai sekaligus mengenal kehidupan satwa laut.
Mawar, Daya Tarik Unik Wisata Bahari Alor

Untuk melihat dugong, wisatawan dapat menggunakan jasa perahu milik nelayan setempat menuju kawasan perairan dangkal yang memiliki padang lamun. Ekosistem ini menjadi sumber makanan penting bagi dugong dan berperan besar dalam mendukung kelangsungan hidup mamalia laut tersebut.
Seorang nelayan yang kerap mengantar wisatawan melihat dugong mengatakan, berdasarkan pengamatannya, terdapat tiga dugong yang dikenal berada di kawasan perairan Alor, yakni Mawar, seekor dugong betina bernama Melati, dan seekor anak dugong.
“Sekarang jumlah dugong di Alor ada tiga, satu Mawar, satu lagi betina dan anaknya. Tapi yang jinak hanya Mawar, sedangkan yang dua lagi jarang menampakkan diri. Hanya pada waktu tertentu saja baru tiga ekor muncul bersamaan,” ungkapnya kepada Harian NTT News, Jumat (16/10/2026), saat berada di lokasi bersama wisatawan.
Menurut penuturan nelayan tersebut, Mawar kini lebih sering terlihat ketika perahu mendekati kawasan perairan tempatnya mencari makan. Ia juga menceritakan bahwa pada masa sebelumnya, kemunculan dugong di lokasi itu tidak mudah disaksikan dan kerap dikaitkan dengan panggilan seorang pawang.
Dalam pengalaman wisata yang dituturkan nelayan setempat, Mawar muncul ke permukaan ketika perahu berada di sekitar padang lamun dan mesin dimatikan. Satwa tersebut dapat terlihat mendekati perahu selama kurang lebih 10–20 menit.
Namun, kemunculan dugong tidak dapat dipastikan pada setiap kunjungan karena satwa tersebut hidup di alam liar. Wisatawan perlu bersabar dan menghormati perilaku alaminya.
Menyusuri Perairan Pantai Mali dengan Perahu Nelayan

Pengalaman mengamati dugong dari perahu menjadi salah satu daya tarik yang membedakan Pantai Mali dari wisata pantai pada umumnya. Wisatawan tidak hanya menikmati panorama laut, tetapi juga berkesempatan mengenal lebih dekat kehidupan mamalia laut yang menjadi bagian dari kekayaan alam Alor.
Berdasarkan informasi dari nelayan setempat, tarif perahu untuk kegiatan tersebut mulai dari Rp100.000 per orang bagi wisatawan lokal dan Rp150.000 per orang bagi wisatawan.
Selain mengamati dugong, pengunjung dapat menikmati suasana pantai yang relatif tenang dan alami. Kondisi ini menjadikan Pantai Mali pilihan bagi wisatawan yang ingin menjauh sejenak dari keramaian sekaligus mengeksplorasi potensi wisata bahari di NTT.
Bagi pencinta alam, fotografer, maupun wisatawan yang tertarik pada kehidupan satwa laut, pengalaman ini dapat menjadi bagian menarik dalam agenda perjalanan selama berada di Alor.
Menjaga Dugong agar Tetap Menjadi Kebanggaan Alor
Dugong bukanlah ikan, melainkan mamalia laut dari kelompok Sirenia. Satwa ini menyusui anaknya dan sangat bergantung pada padang lamun sebagai sumber makanan. Karena itu, kelestarian habitat laut menjadi faktor penting bagi keberlangsungan hidupnya.
Daya tarik Mawar juga membawa tanggung jawab untuk menjaga satwa dan lingkungan tempatnya hidup. Wisatawan dianjurkan menggunakan jasa nelayan atau pemandu lokal yang memahami kondisi perairan serta memperhatikan keselamatan pengunjung dan satwa.
Saat melakukan pengamatan, pengunjung sebaiknya menjaga jarak, tidak mengejar atau menyentuh dugong, tidak memberinya makan, serta menghindari tindakan yang dapat mengganggu aktivitas alaminya. Wisatawan juga perlu mengikuti arahan pemandu dan tidak memaksakan pertemuan apabila dugong tidak muncul.
Kegiatan wisata yang bertanggung jawab tidak hanya membantu menjaga kelestarian dugong, tetapi juga mendukung keterlibatan masyarakat setempat dalam pengembangan ekonomi berbasis potensi bahari.
Pantai Mali, Destinasi yang Layak Masuk Daftar Liburan
Keberadaan Mawar menambah daya tarik Pantai Mali sebagai salah satu destinasi wisata bahari yang patut dipertimbangkan saat berkunjung ke Kabupaten Alor.
Perjalanan yang relatif singkat dari Kalabahi, layanan perahu nelayan, suasana pantai yang menenangkan, serta kesempatan mengamati dugong di habitat alaminya menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan.
Bagi Anda yang merencanakan liburan ke NTT, Pantai Mali dapat menjadi salah satu tujuan untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam Alor. Di sini, wisata bukan sekadar menikmati pemandangan, melainkan juga belajar menghargai kehidupan satwa laut dan pentingnya menjaga ekosistemnya.
Mawar, sang dugong ikonik Pantai Mali, menjadi pengingat bahwa keindahan Alor bukan hanya untuk dikunjungi dan dinikmati, tetapi juga untuk dilestarikan agar tetap dapat dikenal oleh generasi mendatang. (HNN)


















