Hariannttnews.com – Kupang, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2025 dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) Tahun 2026 Bank NTT yang digelar di Aula Fernandes Kantor Gubernur NTT, Minggu (24/5/2026), berlangsung maraton hingga malam hari dan menghasilkan sejumlah keputusan strategis untuk memperkuat tata kelola serta transformasi bisnis Bank NTT.
Rapat yang dihadiri Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, para bupati dan wali kota se-NTT selaku pemegang saham, serta perwakilan Bank Jatim itu membahas secara mendalam kondisi internal Bank NTT, mulai dari pengembangan aset, strategi bisnis, penguatan permodalan, hingga peningkatan layanan kepada masyarakat.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, mengatakan pembahasan dalam RUPS berlangsung konstruktif dan memberi pemahaman lebih mendalam kepada para kepala daerah terkait kondisi dan arah pengembangan Bank NTT.
“Diskusinya sangat bagus. Kami mengecek satu per satu parameter Bank NTT, baik dari sisi aset, pengembangan bisnis, hingga strategi ke depan. Kepala daerah jadi semakin memahami isi perut perbankan,” ujar Melki kepada wartawan usai rapat.
Dalam RUPS Tahunan, para pemegang saham menyepakati menerima laporan pertanggungjawaban direksi dan komisaris Bank NTT. Selain itu, pembagian dividen diputuskan tetap sama seperti tahun sebelumnya, yakni sekitar Rp151 miliar kepada seluruh pemegang saham sesuai porsi kepemilikan saham masing-masing.
Direktur Utama Bank NTT, Paulus Charlie, menjelaskan meski capaian laba perusahaan sedikit di bawah target, kondisi keuangan bank dinilai masih kuat karena ditopang cadangan modal yang memadai.
“Kita bagi sama seperti tahun lalu. Memang laba sedikit di bawah target, tetapi kita masih memiliki cadangan modal sekitar Rp49 miliar,” katanya.
Ia menambahkan, proses penyaluran dividen saat ini tinggal menunggu penyelesaian teknis dengan Kementerian Keuangan dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
Struktur Direksi dan Komisaris Disesuaikan
Dalam RUPS Luar Biasa Tahun 2026, para pemegang saham juga menyepakati penyesuaian struktur organisasi Bank NTT sesuai rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Jumlah direksi yang sebelumnya direncanakan tujuh orang dikembalikan menjadi lima direksi, sedangkan jumlah komisaris menjadi tiga orang.
“Penyesuaian ini dilakukan sesuai rekomendasi OJK, termasuk perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga perusahaan,” jelas Melki.
Salah satu keputusan penting dalam RUPS LB adalah penunjukan Revi Adiana Silawati dari Bank Jatim sebagai Direktur Kepatuhan Bank NTT menggantikan Christofel S. M. Adoe yang diberhentikan dengan hormat.
Melki menyebut Revi telah dinyatakan lulus uji kelayakan dan kepatutan oleh OJK serta memiliki pengalaman sekitar 30 tahun di dunia perbankan.
“Dengan pengalaman panjang yang dimiliki, kami yakin beliau mampu memperkuat tata kelola dan fungsi kepatuhan Bank NTT,” ujarnya.
Pelantikan Direktur Kepatuhan dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026
Selain itu, RUPS juga menyepakati pengusulan Rita Wuisan sebagai calon Komisaris Independen Bank NTT untuk melengkapi struktur pengawasan perusahaan.
Dalam forum tersebut, para pemegang saham turut menyetujui perubahan status PT Bank NTT menjadi Perseroda sesuai ketentuan Kementerian Dalam Negeri.
Tambahan Modal dan Fokus Kredit Produktif
RUPS juga menyepakati penambahan penyertaan modal dari sejumlah pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi NTT menambah modal sebesar Rp30 miliar, Kabupaten Malaka Rp5 miliar, dan Kabupaten Alor Rp3 miliar.
Selain dalam bentuk uang tunai, penyertaan modal juga dimungkinkan melalui aset seperti tanah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan Bank NTT ke depan.
Melki optimistis berbagai keputusan strategis tersebut akan memperkuat daya saing Bank NTT sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap pembangunan daerah.
“Kami semua kepala daerah berkomitmen membesarkan Bank NTT agar semakin berkontribusi bagi pelayanan masyarakat di berbagai bidang,” tegasnya.
Di sisi lain, Bank NTT juga terus memperkuat komitmen dalam penyaluran kredit produktif guna mendukung pelaku usaha kecil dan mencegah terjadinya kredit macet.
Direktur Utama Bank NTT, Paulus Charlie, menegaskan kredit yang disalurkan kini lebih difokuskan pada sektor produktif seperti pertanian, peternakan, dan usaha produksi lainnya.
“Kita tidak mau lagi ada kredit macet seperti pengalaman sebelumnya. Jadi sekarang fokus pada usaha yang benar-benar produktif, bukan konsumtif,” katanya.
Saat ini, Bank NTT menyediakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp350 miliar, terdiri dari Rp300 miliar untuk UMKM produktif dan Rp50 miliar khusus bagi pekerja migran asal NTT.
Pemerintah daerah pun mengajak masyarakat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan perekonomian keluarga. (Yuliana)


















