Wali Kota Kupang Ungkap Makna di Balik Lomba Kebersihan Antarkelurahan

Christian Widodo menilai lomba kebersihan bukan sekadar ajang mencari juara, tetapi momentum membangun kesadaran dan budaya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.

KUPANG, Hariannttnews.com – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, mengungkapkan makna penting di balik pelaksanaan Lomba Kebersihan Antarkelurahan di Kota Kupang. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak semata-mata untuk menentukan kelurahan yang paling bersih, tetapi harus menjadi sarana membangun kesadaran masyarakat agar kebersihan menjadi budaya dan kebiasaan sehari-hari.

Hal itu disampaikan Christian saat menghadiri acara penyerahan hadiah Lomba Kebersihan kepada para lurah di Shoto-Kai Resto & Cafe, Sikumana, Kota Kupang, Selasa (15/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Christian memberikan apresiasi kepada Komunitas Beta Bersih (KBB) yang selama dua tahun terakhir turut menggerakkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan di Kota Kupang.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam gerakan kebersihan, termasuk para lurah, perangkat kelurahan, RT/RW, petugas kebersihan, masyarakat, dewan juri, serta pihak-pihak lainnya.

Menurut Christian, Komunitas Beta Bersih menjadi contoh bahwa persoalan perkotaan dapat dihadapi melalui kolaborasi. Pemerintah, kata dia, tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun Kota Kupang.

“Komunitas Beta Bersih adalah contoh nyata bahwa dengan kolaborasi kita bisa melalui banyak hambatan, rintangan dan tantangan. Kota Kupang bukan milik satu orang atau milik pemerintah saja, tetapi Kota Kupang adalah rumah bersama,” ujar Christian.

Ia mengapresiasi langkah komunitas yang mengambil inisiatif dan bergerak tanpa harus selalu menunggu pemerintah. Salah satunya melalui pelaksanaan lomba kebersihan antarkelurahan yang dinilai mampu mendorong keterlibatan masyarakat.

“Komunitas Beta Bersih ini tidak pernah bertanya apa yang negara kasih kepada kita, tetapi apa yang bisa kita kasih duluan kepada negara,” katanya.

Christian mengibaratkan Komunitas Beta Bersih seperti sebuah kapal yang tidak dibuat untuk terus bersandar di dermaga, tetapi untuk berlayar menghadapi berbagai persoalan.

“Komunitas Beta Bersih ini dibuat untuk berdampak bagi lingkungan sekitar, membelah lautan masalah yang ada di Kota Kupang,” ungkapnya.

Juara Harus Menjadi Teladan

Kepada para lurah yang menerima penghargaan, Christian menyampaikan ucapan selamat. Namun, ia mengingatkan bahwa penghargaan tersebut harus diikuti dengan tanggung jawab untuk mempertahankan kebersihan wilayah masing-masing.

Ia meminta para lurah dan masyarakat tidak hanya menjaga kebersihan ketika lomba atau proses penilaian berlangsung. Kebersihan, menurutnya, harus dipertahankan secara konsisten hingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Juara sejati bukan hanya mampu menjaga kebersihan saat dinilai, tetapi mampu menjaga kebersihan sampai menjadi budaya dan kebiasaan,” tegasnya.

Christian juga menekankan bahwa keberhasilan sebuah kelurahan dalam menjaga kebersihan bukan merupakan hasil kerja lurah seorang diri.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan staf kelurahan, RT/RW, petugas kebersihan, serta masyarakat.

“Tidak ada Superman, yang ada superteam. Saya percaya pasti di balik kalian ada staf kelurahan, ada petugas RT, RW dan masyarakat. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih saya kepada mereka,” ujarnya.

Kebersihan Sebagai Bagian dari Pembangunan

Lebih lanjut, Christian mengatakan pembangunan sebuah kota tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, seperti gedung, jalan dan infrastruktur.

Menurutnya, pembangunan juga harus menyentuh aspek manusia, terutama dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan menjalankan tanggung jawab bersama.

“Satu selokan yang tidak lagi dipenuhi sampah, satu pekarangan yang selalu dibersihkan, satu pohon yang ditanam, satu warga yang sadar bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Itu adalah pembangunan sebuah kota,” tuturnya.

Ia berharap semangat menjaga kebersihan tidak berhenti setelah lomba selesai. Sebaliknya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat kebiasaan positif di setiap lingkungan kelurahan.

Dorong Kategori Penilaian Lebih Beragam

Christian juga mengusulkan agar pelaksanaan lomba kebersihan pada tahun-tahun mendatang tidak hanya memberikan penghargaan berdasarkan nilai tertinggi. Ia mendorong adanya penilaian terhadap perkembangan setiap kelurahan dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya.

“Bukan hanya tentang siapa yang paling tinggi, tetapi siapa yang meningkat paling banyak,” katanya.

Selain kategori peningkatan terbaik, Christian mengusulkan sejumlah kategori tambahan, seperti kelurahan terhijau, kelurahan dengan partisipasi masyarakat terbanyak, serta kelurahan dengan drainase atau selokan paling bersih.

Dalam Lomba Kebersihan Antarkelurahan tersebut, Kelurahan Nunbaun Sabu meraih Juara 1. Juara 2 diraih Kelurahan Oepura, sementara Kelurahan Liliba menempati Juara 3.
Kategori Harapan 1 diraih Kelurahan Oebufu, Harapan 2 Kelurahan Batuplat, dan Harapan 3 Kelurahan Naikoten 1.

Untuk peringkat berikutnya, Kelurahan Nefonaek menempati Peringkat 7, Kelurahan Merdeka Peringkat 8, Kelurahan Oesapa Barat Peringkat 9, dan Kelurahan Bonipoi Peringkat 10.

Christian berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh kelurahan untuk terus meningkatkan kebersihan dan memperkuat partisipasi masyarakat.

Baginya, keberhasilan menjaga kebersihan kota bukan hanya tentang mendapatkan penghargaan, melainkan tentang membangun kesadaran bersama bahwa setiap warga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.

“Terima kasih sekali lagi. Selamat untuk semua,” Tutupnya.

(*/HNN)