Hariannttnews.com – Medan, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memanfaatkan panggung nasional Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kota Kupang melalui penampilan etnis Rote pada Karnaval Budaya Nusantara yang digelar di Kota Medan, Jumat (4/7) malam.
Di tengah hujan yang mengguyur Kota Medan sejak sore, Wali Kota Kupang tampil mengenakan busana adat lengkap etnis Rote bersama Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry E. Pelt, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Kupang, para asisten sekretaris daerah, kepala perangkat daerah, serta kontingen Kota Kupang. Kehadiran maskot Sepe, ikon khas Kota Kupang, turut memimpin iring-iringan peserta dan menjadi perhatian ribuan pengunjung yang memadati lokasi karnaval.
Momentum tersebut dimanfaatkan Pemerintah Kota Kupang untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada peserta Rakernas APEKSI, tamu undangan, serta masyarakat yang menyaksikan langsung Karnaval Budaya Nusantara.
Saat melintas di podium kehormatan, Wali Kota Kupang menyerahkan cendera mata berupa topi adat Ti’i Langga khas Rote kepada Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, serta Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas selaku tuan rumah. Sementara kain tenun khas Rote diberikan kepada istri Wali Kota Medan dan Ketua APEKSI.
Menurut Christian Widodo, dipilihnya budaya Rote sebagai representasi Kota Kupang mencerminkan keberagaman masyarakat yang hidup berdampingan di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Kota Kupang adalah kota yang majemuk. Warga kami berasal dari berbagai latar belakang budaya dan etnis yang hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan. Pada kesempatan ini kami memilih mempromosikan budaya Rote sebagai representasi dari kekayaan budaya yang hidup dan berkembang di Kota Kupang,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberagaman budaya tidak hanya menjadi warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Bagi Kota Kupang yang bertumpu pada sektor jasa, budaya memiliki potensi besar sebagai daya tarik. Identitas budaya mampu menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan sekaligus memperkuat citra kota,” katanya.
Komitmen tersebut, lanjutnya, telah diwujudkan melalui penyelenggaraan Karnaval Budaya pada peringatan HUT ke-140 Kota Kupang dan Hari Jadi ke-30 Kota Kupang sebagai daerah otonom. Untuk pertama kalinya, seluruh etnis yang hidup di Kota Kupang dilibatkan dalam satu panggung kebersamaan.
“Karnaval budaya pada HUT Kota Kupang menjadi bukti bahwa keberagaman adalah kekuatan. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa sehingga kami berkomitmen menjadikannya agenda tahunan sebagai ruang promosi budaya sekaligus mempererat persatuan seluruh warga Kota Kupang,” tambahnya.
Keikutsertaan Kota Kupang dalam Karnaval Budaya Nusantara merupakan bagian dari rangkaian Rakernas XVIII APEKSI 2026 yang berlangsung di Kota Medan pada 28 Juni hingga 4 Juli 2026 dengan mengusung tema “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat.” Selain memperkuat sinergi antarpemerintah kota, kegiatan tersebut menjadi wadah promosi potensi daerah, investasi, UMKM, serta kekayaan budaya dari berbagai wilayah di Indonesia.
Pada penutupan Rakernas, APEKSI menghasilkan sepuluh rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada Presiden. Rekomendasi tersebut meliputi penguatan kapasitas fiskal daerah, percepatan pembangunan infrastruktur, transformasi digital pemerintahan, penguatan ekonomi lokal, hingga pembangunan kota yang berkelanjutan.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI, Eri Cahyadi, mengatakan rekomendasi tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah kota terhadap Program Strategis Nasional sekaligus menjadi masukan atas berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah daerah.
Salah satu rekomendasi penting yang disepakati adalah perlunya reformasi hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah melalui perluasan ruang fiskal pemerintah kota, optimalisasi dana transfer daerah, serta pembiayaan gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sementara itu, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengapresiasi seluruh pihak yang telah menyukseskan Rakernas XVIII APEKSI 2026. Menurutnya, hasil pertemuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan kota-kota di Indonesia.
“Semoga setiap kota membawa pulang pengalaman, inovasi, dan inspirasi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan berdaulat,” ujarnya.
Promosi budaya Kota Kupang juga mendapat apresiasi dari diaspora Nusa Tenggara Timur di Kota Medan. Ketua Program Pascasarjana Sekolah Tinggi St. Paul Simalingkar Medan, Dr. Adolfina Elisabeth Koamesakh, MH., M.Th., melalui media sosial mengunggah foto Wali Kota Kupang mengenakan pakaian adat Rote dengan takarir, “To’o huk abunae. Malole ta malole, Kota Kupang le malole.” (PSKK/HNN)


















