Lima Diakon SVD dan satu Diakon Sch.P menerima tahbisan imam di Nenuk, Belu, dengan pesan untuk setia mewartakan Sabda dan hadir bersama umat.
ATAMBUA, Hariannttnews.com – Enam diakon dari Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) dan Scholarum Piarum (Sch.P) ditahbiskan menjadi imam dalam Perayaan Ekaristi Tahbisan Imam di Aula Provinsialat SVD Timor, Nenuk, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Kamis (1/10/2026).
Keenam diakon tersebut terdiri dari lima Diakon SVD dan satu Diakon Sch.P. Tahbisan dipimpin oleh Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr, dengan mengusung tema, “Inilah Aku Tuhan, Utuslah Aku!” yang diambil dari Yesaya 6:8.
Dalam homilinya, Mgr. Dominikus Saku menegaskan bahwa keenam diakon yang ditahbiskan merupakan utusan Allah yang dipanggil untuk menjadi duta-duta sukacita di tengah umat.
Menurut Mgr. Domi, para calon imam telah melalui proses pendidikan dan formasi untuk semakin menyadari keagungan Tuhan sekaligus keterbatasan manusia. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi karya Allah.
“Para pilihan Tuhan ini sungguh sadar selama pendidikan dan formasi bahwa mereka diantar untuk merasakan keagungan Tuhan. Mereka sadar bahwa mereka punya keterbatasan. Namun, kebesaran karya Allah tidak bisa dibatasi oleh kelemahan manusia,” ujar Mgr. Domi.
Ia mengatakan, dalam kepasrahan diri, para diakon tersebut telah menyatakan kesiapan untuk menjadi utusan Tuhan dan menjalankan tugas pelayanan di tengah Gereja serta umat Allah.
Tiga Tugas Kristus
Mgr. Domi kemudian mengingatkan para imam baru mengenai tiga tugas Kristus yang melekat dalam perutusan seorang imam, yakni sebagai nabi, imam, dan raja.
Sebagai nabi, para imam dipanggil menjadi penggaung Sabda Tuhan dan mewartakannya di tempat perutusan. Menurutnya, tugas tersebut penting karena dunia terkadang tidak menyadari suara kebenaran yang berasal dari Allah.
Sebagai imam, mereka dipanggil menjadi tanda keselamatan melalui pelayanan di altar Tuhan dan pelayanan sakramen-sakramen Gereja.
Sementara sebagai raja, para imam diharapkan mampu menjadi pemimpin yang menuntun umat menuju jalan yang telah disiapkan Tuhan.
“Imam baru perlu menjadi seperti garam yang larut dalam kehidupan umat,” tambah Mgr. Domi, yang juga merupakan dosen filsafat di Fakultas Filsafat Agama Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
Imam Dipanggil untuk Hadir Bersama Umat
Perwakilan imam baru, Pater Yosef Mario Ambasan, SVD, dalam sambutannya mengatakan, tahbisan imam bukanlah tentang kehebatan manusia, melainkan tentang Tuhan yang memanggil, memilih, dan mengutus.
“Menjadi imam berarti belajar memberi diri, menangis bersama yang terluka, dan memiliki hati Yesus yang berbelas kasih,” ungkapnya.
Ia menegaskan, para imam baru ingin hadir di tengah umat, khususnya bersama mereka yang miskin dan terpinggirkan.
“Semoga melalui kehadiran dan kehidupan kami, Tuhan berkenan melakukan karya-Nya dan umat merasakan belas kasih Allah,” katanya.
Ia juga meminta dukungan umat melalui doa, teguran, dan nasihat agar para imam baru tetap setia pada Kristus dalam menjalankan tugas perutusan.
“Kami pun berharap agar umat Allah bisa mendoakan, menegur, mengingatkan, dan membawa kami kembali kepada Kristus jika ada hal yang keliru saat kami menjalankan tugas perutusan,” ujarnya.
Wakil Bupati Belu: Imam Harus Menjadi Teladan
Perayaan Ekaristi tahbisan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST.
Dalam sambutannya, Vicente menyampaikan ucapan selamat dan proficiat kepada keenam imam baru yang telah menerima rahmat tahbisan.
Ia menegaskan bahwa menjadi imam bukan sekadar menerima sebuah jabatan, melainkan kesediaan untuk melayani dan menjadi teladan bagi umat.
“Menjadi imam bukan sekadar menerima jabatan, melainkan bersedia untuk melayani dan menjadi teladan bagi umat yang dilayani,” pesan Vicente.
Ia juga mengajak para imam baru untuk menjadikan moto “Inilah Aku Tuhan, Utuslah Aku!” sebagai pedoman dalam menjalankan pelayanan sepanjang hidup.
“Jangan pernah lelah untuk melayani dan jangan pernah berhenti menjadi tanda kehadiran Tuhan. Moto ‘Ini aku Tuhan, utuslah aku!’ semestinya bukan hanya sebagai tema, melainkan menjadi panduan pelayan sepanjang hidup untuk menjadi jembatan persaudaraan,” katanya.
![]()
Tahbisan Bukan Garis Akhir Perutusan
Sementara itu, Pater Provinsial SVD Timor, Pater Dismas Mauk, SVD, mengatakan bahwa Perayaan Ekaristi tahbisan tersebut bukan sekadar momentum untuk berkumpul dan menyaksikan prosesi tahbisan.
Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi kesempatan untuk melihat dan merasakan Allah yang terus memanggil serta membentuk kehidupan umat beriman.
“Tahbisan bukanlah garis akhir, tapi awal perutusan. Altar Tuhan bukanlah garis akhir, tapi fondasi perutusan,” tegas Pater Dismas.
Ia berpesan kepada para imam baru agar tidak kehilangan rasa kagum terhadap altar Tuhan dan tidak menjadikan Ekaristi sebagai rutinitas.
“Jangan hanya berbicara tentang Sabda, tapi biarkanlah Sabda membentuk hidupmu. Biarkanlah Sabda menjadi nyata dalam kesaksian hidupmu,” pesannya.
Menurut Pater Dismas, kesaksian hidup seorang imam memiliki arti penting dalam kehidupan umat.
“Umat mungkin akan lupa dengan khotbahmu, tapi umat akan mengingat kesaksian hidupmu. Oleh karena itu, Gereja mempercayakan altar kepada kalian. Rayakan altar dengan penuh hormat dan wartakanlah Sabda dengan setia,” ujarnya.
Perayaan Ekaristi tahbisan berlangsung dalam suasana meriah dan dihadiri Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, pimpinan Kongregasi Scholarum Piarum (Sch.P), perwakilan Dewan Provinsi SVD Ende, puluhan imam dari sejumlah kongregasi, para misionaris SVD yang sedang berlibur, diakon, frater, suster, serta ratusan umat Allah.
Di akhir rangkaian perayaan, Mgr. Domi menyampaikan ucapan selamat kepada keenam imam baru dan mengajak mereka menjalankan tugas perutusan dengan penuh sukacita.
“Salam bahagia untuk ke-6 imam baru yang baru ditahbiskan. Selamat berbahagia di tengah keluarga dan komunitas, serta selamat menjalankan tugas perutusan,” pungkas Mgr. Domi.
Penulis : Inyo
Editor : Marcho


















