Hariannttnews.com – Kupang, Industri perbankan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Mei 2026 menunjukkan kinerja yang semakin kokoh. Pertumbuhan aset, kredit, dan penghimpunan dana masyarakat berlangsung secara konsisten, mencerminkan meningkatnya kepercayaan publik sekaligus terjaganya fungsi intermediasi perbankan dalam mendukung perekonomian daerah.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT mencatat total aset perbankan mencapai Rp57,50 triliun atau tumbuh 8,35 persen secara tahunan (year on year/yoy). Peningkatan ini ditopang oleh ekspansi penyaluran kredit yang mencapai Rp47,56 triliun, tumbuh 3,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan kinerja impresif dengan nilai Rp41,89 triliun atau meningkat 12,70 persen secara yoy.
Pertumbuhan DPK terutama ditopang oleh peningkatan tabungan yang mencapai Rp14,36 triliun dan deposito sebesar Rp21,82 triliun. Sebaliknya, simpanan giro mengalami penurunan tipis menjadi Rp5,72 triliun. Komposisi DPK tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat masih menempatkan deposito sebagai instrumen simpanan utama, disusul tabungan dan giro.
Dari sisi penyaluran kredit, kredit konsumsi masih mendominasi dengan nilai Rp29,44 triliun atau setara 61,89 persen dari total kredit. Kredit modal kerja tercatat sebesar Rp14,96 triliun dengan pangsa 31,46 persen, sementara kredit investasi mencapai Rp3,16 triliun atau 6,65 persen. Tingginya porsi kredit modal kerja menunjukkan bahwa aktivitas usaha di NTT terus bergerak dan membutuhkan dukungan pembiayaan yang memadai.

Berdasarkan sektor ekonomi, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi penerima kredit terbesar dengan outstanding mencapai Rp24,96 triliun atau sekitar 60,64 persen dari total kredit sektoral.
Posisi ini menegaskan peran strategis sektor primer sebagai penggerak utama perekonomian NTT. Sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertambangan dan penggalian, serta jasa keuangan dan asuransi juga mencatat pertumbuhan penyaluran kredit yang positif.
Dari sisi kualitas kredit, rasio Non-Performing Loan (NPL) perbankan NTT berada pada level 3,82 persen. Meskipun meningkat dibanding akhir 2025, angka tersebut masih berada dalam batas aman dan menunjukkan bahwa stabilitas sektor perbankan tetap terjaga. Sementara itu, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 115,94 persen, mengindikasikan tingginya kemampuan perbankan dalam menyalurkan dana yang dihimpun kepada masyarakat dan dunia usaha.
Segmen debitur non-UMKM masih mendominasi penyaluran kredit dengan outstanding Rp30,31 triliun, sedangkan kredit kepada pelaku UMKM mencapai Rp17,26 triliun. Ke depan, penguatan pembiayaan kepada UMKM diharapkan semakin ditingkatkan guna memperluas basis pertumbuhan ekonomi daerah dan menciptakan lapangan kerja yang lebih inklusif.
Secara keseluruhan, capaian perbankan NTT hingga Mei 2026 mencerminkan sektor jasa keuangan yang sehat, resilien, dan terus berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi daerah. Dengan stabilitas yang tetap terjaga, perbankan diharapkan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus meningkatkan akses pembiayaan bagi seluruh lapisan masyarakat. (HNN)
Sumber : Otoritas Jasa Keuangan (OJK)


















