Hariannttnews.com – Kupang, Keyakinan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap kondisi perekonomian masih tetap kuat pada Mei 2026. Namun, di tengah optimisme tersebut, aktivitas konsumsi masyarakat mulai menunjukkan perlambatan, terutama untuk pembelian barang-barang tahan lama.
Hal itu terungkap dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang dilakukan terhadap 100 responden di NTT, khususnya di Kota Kupang. Survei tersebut menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 tercatat sebesar 131,67 atau masih berada pada level optimistis karena berada di atas angka 100.
Meski demikian, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 139,00. Penurunan itu mengindikasikan optimisme masyarakat masih terjaga, namun tidak sekuat bulan sebelumnya.
Bank Indonesia mencatat, moderasi keyakinan konsumen terutama terlihat dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang turun dari 133,67 pada April menjadi 122,00 pada Mei 2026.
Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi menurunnya aktivitas konsumsi barang tahan lama (durable goods). Di sisi lain, kondisi pendapatan masyarakat dan ketersediaan lapangan kerja dinilai masih relatif terjaga.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen yang cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uangnya. Masyarakat tetap memiliki kepercayaan terhadap kondisi ekonomi, tetapi mulai lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas pengeluaran.
Meski konsumsi mengalami perlambatan, harapan masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang masih cukup tinggi. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Mei 2026 tercatat sebesar 141,33, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan April yang mencapai 144,33.
Tingginya IEK ditopang oleh meningkatnya optimisme terhadap prospek kegiatan usaha dalam enam bulan ke depan. Namun, ekspektasi terhadap peningkatan pendapatan dan ketersediaan lapangan kerja tidak setinggi bulan sebelumnya sehingga memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.
Selain mengukur tingkat keyakinan konsumen, survei Bank Indonesia juga memotret pola pengelolaan keuangan masyarakat NTT.
Hasilnya menunjukkan sebagian besar pendapatan masyarakat masih digunakan untuk kebutuhan konsumsi. Sebanyak 62,35 persen dari total penghasilan responden dialokasikan untuk konsumsi, sementara 30,35 persen disisihkan untuk tabungan dan 7,30 persen digunakan untuk pembayaran cicilan atau pinjaman.
Data tersebut menggambarkan bahwa masyarakat NTT tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ke depan. Namun, di tengah berbagai dinamika ekonomi, warga memilih untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan dengan tetap menjaga porsi tabungan dan mengendalikan pengeluaran konsumsi.
Survei ini sekaligus menjadi indikator bahwa daya tahan ekonomi rumah tangga di NTT masih cukup baik, meskipun masyarakat mulai menerapkan pola konsumsi yang lebih terukur dan berhati-hati. (HNN)


















