Festival Budaya Kayu Putih Angkat Etnis Ende Lio, Perkuat Persaudaraan dan Lestarikan Warisan NTT

KUPANG, Hariannttnews.com – Pemerintah Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, menggelar Festival Budaya Tingkat Kelurahan Kayu Putih 2026 di Lapangan Sepak Bola Mini Loka Du’u, Kamis (30/7/2026). Festival yang berlangsung selama tiga hari hingga 1 Agustus 2026 itu mengangkat budaya Etnis Ende Lio dengan tema “Lestarikan Budaya, Eratkan Kebersamaan, Wujudkan Kayu Putih Berbudaya.”

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Eduard Pelt, mewakili Wali Kota Kupang yang berhalangan hadir karena mempersiapkan agenda kunjungan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, ke Kota Kupang.

Turut hadir dalam pembukaan festival antara lain, Asisten II Setda Kota Kupang Ignasius Repelita Lega, Camat Oebobo Zet Batmalo, Plt. Lurah Kayu Putih Gunther Y. N. Beo, serta Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang Josefina M. D. Getha.

Ketua Panitia sekaligus ketua RW 006, Abdullah, dalam laporannya mengatakan festival budaya digelar sebagai bentuk komitmen masyarakat Kelurahan Kayu Putih dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur.

Ia menyampaikan bahwa NTT memiliki keragaman budaya, bahasa, pakaian adat, hingga tradisi yang menjadi identitas daerah dan harus terus diwariskan kepada generasi muda.

“Tahun ini kami memilih mengangkat budaya Etnis Ende Lio sebagai salah satu etnis yang hidup dan berkembang di Kelurahan Kayu Putih. Melalui festival ini kami ingin melestarikan budaya, mempererat kebersamaan warga, sekaligus memperkuat semangat nasionalisme,” ujarnya.

Selain pelestarian budaya, festival juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pameran mini UMKM yang diikuti utusan setiap RW serta PKK Kelurahan Kayu Putih.

Festival diikuti seluruh elemen masyarakat Kelurahan Kayu Putih. Berbagai kegiatan diselenggarakan, mulai dari pawai budaya yang diiringi drumband siswa SDK Santa Maria Assumpta, pameran UMKM, lomba Tari Gawi, lomba solo lagu daerah, fashion show kategori anak, pemuda dan lansia, hingga pelayanan cek kesehatan gratis dari UPTD Puskesmas Oepoi.

Warga bersama jajaran Pemerintah Kota Kupang menari Tari Gawi, tarian khas Etnis Ende Lio, usai pembukaan Festival Budaya Kelurahan Kayu Putih 2026 di Lapangan Sepak Bola Mini Loka Du’u, Kamis (30/7/2026).

Festival budaya ini didukung pendanaan dari Pemerintah Kota Kupang sebesar Rp20.000.000,. (setelah potongan pajak) serta swadaya masyarakat Kelurahan Kayu Putih sebesar Rp21.102.000. Sejumlah pihak turut mendukung kegiatan tersebut, di antaranya Bank NTT, Kalbe Farma, PT Djarum, XL Regional Kupang, Suzuki SBM Kupang, serta berbagai mitra lainnya.

Dalam sambutannya, Sekda Kota Kupang Jeffry Eduard Pelt, menegaskan bahwa penyelenggaraan festival budaya merupakan salah satu upaya Pemerintah Kota Kupang untuk menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, kegiatan budaya bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi ruang mempererat persaudaraan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

“Event budaya adalah kekuatan awal sebuah masyarakat dalam membangun ikatan persaudaraan. Di tengah perkembangan teknologi, kita perlu terus menghidupkan budaya agar generasi muda mengenal, mencintai, dan menghargai warisan leluhurnya,” kata Jeffry.

Ia mengapresiasi panitia yang memilih mengangkat budaya Ende Lio tahun ini sehingga masyarakat Kota Kupang dapat lebih mengenal tradisi, nilai, dan filosofi yang terkandung dalam budaya tersebut, termasuk Tari Gawi yang sarat makna kebersamaan.

Jeffry juga menekankan bahwa kegiatan budaya mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan UMKM dan partisipasi seluruh warga.

“Lomba bukan semata-mata mencari juara, tetapi menjadi sarana mempererat tali persaudaraan dan membangun semangat kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap semangat gotong royong yang terbangun melalui Festival Budaya Kayu Putih dapat terus dipelihara dalam mendukung pembangunan Kota Kupang sebagai rumah bersama yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Plt. Lurah Kayu Putih, Gunther Y. N. Beo, mengatakan Festival Budaya Kelurahan Kayu Putih bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi wadah strategis untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat persatuan masyarakat yang majemuk.

“Festival budaya ini sebagai sarana pelestarian tradisi agar nilai-nilai luhur, adat istiadat, dan budaya warisan para leluhur tetap hidup serta dikenal oleh generasi muda. Kami ingin anak-anak hingga kaum muda tidak hanya mengenal budaya melalui cerita, tetapi juga menghayati dan melestarikannya melalui kegiatan nyata,” ujarnya.

Menurut Gunther, festival ini juga menjadi media komunikasi sosial yang efektif untuk mempererat tali persaudaraan antarmasyarakat. Melalui berbagai kegiatan budaya, seluruh elemen masyarakat dari tingkat RT, RW, tokoh adat, tokoh agama, pemuda hingga PKK dilibatkan secara aktif sehingga semangat gotong royong dan kebersamaan terus terpelihara.

“Keberagaman yang ada di Kelurahan Kayu Putih merupakan kekuatan yang harus terus dirawat. Lewat festival ini kami ingin memperkuat rasa persatuan, saling menghargai perbedaan, dan membangun kebersamaan dalam semangat satu keluarga,” katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa penyelenggaraan festival budaya juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran pameran mini UMKM diharapkan menjadi ruang promosi bagi produk-produk lokal sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha kecil.

“Kami berharap event budaya ini mampu menarik lebih banyak pengunjung, sehingga produk UMKM warga semakin dikenal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, festival budaya tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang mendukung kesejahteraan warga Kelurahan Kayu Putih,” tutup Gunther.

(Marcho)