Hariannttnews.com – Kupang, Semangat persatuan dalam keberagaman kembali digaungkan dalam peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 tingkat Kota Kupang. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa perbedaan yang ada di tengah masyarakat bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus terus dirawat demi menjaga keharmonisan dan kemajuan daerah.
Pesan tersebut disampaikan saat memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 yang berlangsung di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang, Senin (1/6). Upacara yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” berlangsung khidmat dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Kupang, Sekretaris Daerah Kota Kupang, pimpinan perangkat daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, serta aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Kupang.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Yudian Wahyudi. Dalam pidato itu ditegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen bangsa dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila di setiap aspek kehidupan.
Tema peringatan tahun ini menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi pemersatu bangsa Indonesia, tetapi juga memiliki relevansi sebagai fondasi dalam membangun perdamaian dunia. Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perkembangan teknologi yang begitu cepat hingga dinamika geopolitik internasional, Pancasila tetap menjadi pedoman moral yang menjaga persatuan bangsa.
Usai membacakan sambutan Kepala BPIP, Christian Widodo menyampaikan pesan khusus kepada seluruh peserta upacara mengenai pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman yang dimiliki Kota Kupang.
Menurutnya, keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang masyarakat yang ada di Kota Kupang merupakan modal sosial yang sangat berharga.
“Di Kota Kupang, keberagaman bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan. Keberagaman bukan menjadi jarak pemisah, tetapi menjadi jembatan. Dan kita semua selalu bisa hidup dalam sebuah harmoni,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa harmoni bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama, melainkan mampu hidup berdampingan dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan. Wali Kota mengibaratkan Kota Kupang seperti kain tenun yang tersusun dari beragam warna dan motif, namun menghasilkan keindahan ketika dirangkai menjadi satu kesatuan.
Christian juga menegaskan bahwa Pancasila memiliki hubungan historis yang kuat dengan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan warisan besar yang harus terus dijaga dan diamalkan.
“Pancasila adalah sumbangan terbaik masyarakat Nusa Tenggara Timur kepada Indonesia. Karena itu, Pancasila tidak boleh hanya dihafal atau diucapkan saat upacara, tetapi harus hidup dalam tindakan dan perilaku kita sehari-hari,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota mengajak seluruh masyarakat untuk mensyukuri perjalanan panjang Kota Kupang yang baru saja memperingati usia ke-140 tahun dan 30 tahun sebagai daerah otonom.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, ASN, TNI, Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya yang selama ini turut menjaga keamanan, ketertiban, serta mendukung pembangunan Kota Kupang.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga semangat toleransi dan persaudaraan di tengah masyarakat.
“Bangsa tidak runtuh ketika gedung-gedungnya hancur. Bangsa runtuh ketika rasa persaudaraan di antara rakyatnya hilang,” katanya.
Mengutip pemikiran Henry Ford, Christian mengatakan bahwa datang bersama adalah sebuah permulaan, tetap bersama adalah sebuah kemajuan, dan mampu bekerja bersama merupakan sebuah kesuksesan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kebersamaan dan mengedepankan semangat gotong royong.
“Persatuan bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meski berbeda. Mari kita jaga Kota Kupang sebagai rumah bersama yang aman, damai, dan penuh harapan bagi semua orang,” ajaknya.
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Kota Kupang ditutup dengan penyerahan simbolis bantuan bangku taman kepada Pemerintah Kota Kupang dari Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang bersama Fakultas Teknik Dili Institute of Technology (DIT) Timor-Leste.
Bantuan tersebut diterima langsung oleh Wali Kota Kupang sebagai simbol kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam mendukung penataan ruang publik yang lebih nyaman, estetis, dan ramah bagi masyarakat. (*/MN)


















