KABUPATEN KUPANG, Hariannttnews.com – Poltekkes Kemenkes Kupang bersama Puskesmas Sulamu dan Pemerintah Desa Oeteta berkolaborasi menggelar edukasi pencegahan stunting sekaligus skrining tuberkulosis (TB) bagi balita dan keluarganya di Desa Oeteta, Kabupaten Kupang. Kegiatan ini bertujuan mendeteksi secara dini risiko TB sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hubungan erat antara tuberkulosis dan stunting.
Desa Oeteta menjadi salah satu wilayah yang masih menghadapi persoalan stunting dan tuberkulosis setiap tahunnya. Kondisi tersebut mendorong perlunya upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan serta deteksi dini terhadap kelompok yang berisiko.
Ketua Pelaksana kegiatan dari Poltekkes Kemenkes Kupang, Irfan, SKM., M.Kes, mengatakan skrining TB pada balita dan keluarganya merupakan langkah penting untuk mencegah dampak infeksi tuberkulosis terhadap pertumbuhan anak.
“Melalui skrining tuberkulosis pada balita dan keluarganya, kami berharap risiko TB dapat diketahui sejak dini sehingga dapat mencegah terjadinya stunting akibat infeksi tuberkulosis. Pencegahan harus dilakukan secara bersama melalui kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Kegiatan tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Kupang, Kepala Puskesmas Sulamu beserta pengelola program TB dan gizi, serta Pemerintah Desa Oeteta yang terdiri atas Kepala Desa, Ketua TP PKK, dan kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).
Selain penyuluhan mengenai pencegahan stunting dan TB, peserta juga mendapatkan pelayanan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, serta skrining tuberkulosis menggunakan X-Ray Portable.
Dalam sesi edukasi, masyarakat diberikan pemahaman mengenai keterkaitan antara stunting dan tuberkulosis. Banyak orang tua balita mengaku baru mengetahui bahwa infeksi TB dapat menyebabkan anak mengalami stunting, sementara anak yang mengalami stunting juga memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi TB akibat daya tahan tubuh yang lebih rendah.
Hasil skrining menunjukkan kabar menggembirakan. Dari 34 peserta yang menjalani pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable, tidak ditemukan indikasi risiko tuberkulosis. Seluruh peserta dinyatakan memiliki kondisi paru-paru yang sehat dan tidak menunjukkan gambaran infeksi TB.
Meski demikian, tim Poltekkes mengingatkan masyarakat agar tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan penularan tuberkulosis maupun penyakit saluran pernapasan lainnya.
Upaya tersebut meliputi konsumsi makanan bergizi tinggi protein, tidak merokok, memakai masker saat mengalami gangguan pernapasan, menutup mulut ketika batuk atau bersin, tidak meludah sembarangan, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta menjaga sanitasi rumah, ventilasi, pencahayaan, dan kepadatan hunian sesuai standar kesehatan.
Kepala Desa Oeteta mengapresiasi kolaborasi yang telah dilakukan dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan sasaran yang lebih luas.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dengan melibatkan lebih banyak masyarakat dan berbagai bentuk pelayanan kesehatan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh warga Desa Oeteta,” katanya.
Melalui slogan “Cegah Stunting, Cegah Tuberkulosis”, Poltekkes Kemenkes Kupang mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam penemuan kasus TB sedini mungkin, memastikan pengobatan hingga tuntas, serta mencegah stunting sejak awal kehidupan anak.
Langkah tersebut diharapkan mampu mewujudkan generasi yang lebih sehat dan bebas dari stunting maupun tuberkulosis. (HNN)


















