Pentingnya PHBS dan Sarana Sanitasi untuk Pencegahan Stunting dan Diare di Desa Oeteta Kabupaten Kupang

KABUPATEN KUPANG, Hariannttnews.com – Poltekkes Kemenkes Kupang memperkuat upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kupang melalui kegiatan edukasi kesehatan, perbaikan sarana sanitasi, serta pendampingan masyarakat di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu.

Program yang berlangsung selama Mei hingga Juli 2026 ini menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stunting, diare, dan pentingnya sanitasi yang layak.

Kegiatan edukasi dilaksanakan di tiga posyandu dengan sasaran utama orang tua yang memiliki balita. Sebanyak 120 peserta atau sekitar 40 ibu balita di setiap posyandu mengikuti penyuluhan yang juga dihadiri oleh tim dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Kupang, Kepala Puskesmas Sulamu beserta staf, Kepala Desa Oeteta, Ketua PKK, dan kader posyandu.

Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius di Kabupaten Kupang. Kondisi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kurangnya asupan gizi kronis sejak awal kehidupan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang belum optimal, sanitasi yang belum memenuhi standar, hingga penyakit infeksi seperti diare dan kecacingan.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan pemahaman bahwa pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada pemenuhan gizi, tetapi juga memerlukan dukungan lingkungan yang sehat dan perilaku hidup bersih.

Tim dosen Poltekkes Kemenkes Kupang yang terdiri dari Wanti, Karolus Ngambut, dan Oktofianus Sila menjelaskan bahwa konsumsi makanan bergizi tinggi protein harus diimbangi dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar serta penyediaan air bersih yang memenuhi standar kesehatan.

Masyarakat juga diedukasi mengenai syarat sumur yang sehat, di antaranya memiliki jarak minimal 10 meter dari sumber pencemaran seperti jamban, kandang ternak, dan tempat pembuangan sampah. Selain itu, konstruksi sumur harus kedap air, memiliki lantai pelindung selebar 1–2 meter, serta dilengkapi saluran pembuangan agar air limbah tidak kembali meresap ke dalam sumur.

Kepala Puskesmas Sulamu mengapresiasi keterlibatan Poltekkes Kemenkes Kupang dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Desa Oeteta.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Kupang yang telah berperan aktif membantu pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat melalui edukasi pencegahan stunting dan perbaikan sanitasi di Desa Oeteta,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Oeteta, Yakob M. Tafae, menyambut baik penetapan Desa Oeteta sebagai wilayah binaan Poltekkes Kemenkes Kupang.

“Kami sangat bersyukur Desa Oeteta menjadi wilayah binaan Poltekkes Kemenkes Kupang. Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai stunting, diare, dan pentingnya sanitasi yang layak. Kami berharap program ini dapat terus berlanjut pada tahun 2027,” katanya.

Senada dengan itu, Bidan Desa Oeteta, Jeni, menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi para orang tua balita, khususnya keluarga yang memiliki anak berisiko stunting.

“Program ini meningkatkan pemahaman orang tua tentang penyebab stunting serta langkah-langkah pencegahannya. Kami berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan sehingga upaya memutus mata rantai penyebab stunting bisa dilakukan secara berkesinambungan,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari salah seorang ayah balita yang mengikuti kegiatan. Menurutnya, program tersebut menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung karena tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga membantu perbaikan fasilitas sanitasi keluarga.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat, diharapkan upaya pencegahan stunting di Desa Oeteta dapat berjalan lebih efektif sehingga tercipta lingkungan yang sehat, akses air bersih yang memadai, serta generasi anak yang tumbuh sehat dan bebas stunting. (HNN)