Air Mata dan Harapan di GMIT Alfa Omega Labat, Negara Hadir Lewat Santunan BPJS Ketenagakerjaan

Hariannttnews.com – Suasana haru menyelimuti halaman GMIT Alfa Omega Labat usai ibadah Minggu, 17 Mei 2026. Di tengah duka yang masih membekas, keluarga tiga jemaat yang berpulang menerima penguatan dan penghiburan melalui penyerahan santunan kematian dari BPJS Ketenagakerjaan.

Tiga almarhum yang mendapatkan perlindungan tersebut yakni Yanes Loudewyk Bako dan Adriana Lape Anunut yang berprofesi sebagai petani, serta Yori Amelia Koa yang melayani sebagai Penatua jemaat. Masing-masing ahli waris menerima santunan sebesar Rp42 juta sebagai bentuk perlindungan sosial ketenagakerjaan dari negara.

Penyerahan santunan berlangsung penuh kekeluargaan dan disaksikan langsung oleh jemaat setelah ibadah selesai. Tangis keluarga bercampur syukur karena di tengah kehilangan orang tercinta, mereka tetap merasakan perhatian dan kehadiran negara melalui program BPJS Ketenagakerjaan.

Kepala Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan NTT, Brian Permana Putra, menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan. Ia menegaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan saat menghadapi risiko kehidupan.
“Ketika ada saudara kita meninggal dunia, negara hadir memberikan santunan senilai Rp42 juta. Ini adalah bentuk kepedulian negara kepada masyarakat,” ujarnya.

Brian juga mengapresiasi pihak gereja dan jemaat yang dinilai menjadi pelopor perlindungan sosial berbasis gereja melalui dana diakonia. Menurutnya, GMIT Alfa Omega Labat aktif memberikan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan kepada jemaat rentan.

Kerja sama yang telah berjalan selama tiga tahun itu kini disebut telah melindungi sekitar 600 jemaat. Bahkan, apabila peserta yang meninggal dunia masih memiliki anak usia sekolah, BPJS Ketenagakerjaan juga memberikan beasiswa pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi untuk maksimal dua orang anak.
“Harapan besar dari negara adalah memastikan hak pendidikan anak tetap berjalan meskipun orang tuanya mengalami risiko meninggal dunia,” katanya.

Ke depan, BPJS Ketenagakerjaan berencana memperluas kolaborasi bersama Sinode GMIT agar perlindungan sosial dapat menjangkau lebih banyak jemaat di seluruh Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, Pendeta Vivi Leinusa mengaku bersyukur atas kemitraan yang telah terjalin bersama BPJS Ketenagakerjaan selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi bagian dari diakonia transformatif gereja untuk menopang jemaat yang rentan menghadapi risiko kehidupan.
“Kami bersyukur karena gereja boleh menjadi saluran berkat untuk menolong jemaat ketika mereka menghadapi risiko kehidupan yang tidak bisa terhindarkan,” ungkapnya.

Ia berharap semakin banyak jemaat mengikuti kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sehingga manfaat perlindungan sosial dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Rasa syukur juga disampaikan Yules, ahli waris dari almarhumah Yori Amelia Koa. Dengan suara terbata-bata, ia mengaku sangat terbantu dengan santunan yang diterima keluarganya.
“Saya berterima kasih kepada pihak gereja dan BPJS Ketenagakerjaan karena sudah membantu saya sehingga bisa mendapatkan santunan sebesar Rp42 juta,” ujarnya haru.

Menurutnya, bantuan tersebut bukan hanya bernilai materi, tetapi juga menjadi penguatan bagi keluarga yang sedang berduka. Ia berharap pengalaman yang dialaminya dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat lain tentang pentingnya perlindungan ketenagakerjaan.

Sementara itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wawan Burhanuddin, menegaskan bahwa perlindungan sosial ketenagakerjaan harus dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk jemaat dan pekerja rentan di lingkungan gereja.

Menurutnya, sinergi antara gereja dan negara menjadi langkah nyata menghadirkan rasa aman bagi masyarakat saat menghadapi risiko kehidupan.
“BPJS Ketenagakerjaan hadir untuk memastikan setiap pekerja, termasuk pekerja rentan, mendapatkan perlindungan yang layak. Kolaborasi bersama gereja seperti yang dilakukan GMIT Alfa Omega Labat merupakan bentuk kepedulian bersama agar masyarakat tetap merasa terlindungi dan memiliki kepastian bagi keluarganya,” ujar Wawan Burhanuddin. (Marcho)