Bengkel Las Nona Timor menjadi ruang belajar keterampilan sekaligus tempat mahasiswa mencari penghasilan untuk membiayai kuliah.
TIMOR TENGAH UTARA, Hariannttnews.com – Di tengah tantangan biaya pendidikan yang terus menjadi perhatian banyak keluarga, beberapa mahasiswa Universitas Timor (UNIMOR) di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) memilih jalan berbeda.
Mereka tidak hanya duduk di ruang kuliah dan berkutat dengan buku. Di luar jam perkuliahan, para mahasiswa ini turun ke bengkel, memegang mesin las, memotong besi, merakit pagar hingga membuat kanopi.
Bagi mereka, menjadi tukang las bukan pekerjaan yang harus dipandang sebelah mata. Justru dari percikan api las itulah, mereka berusaha membiayai pendidikan, memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempersiapkan masa depan.
Kisah tersebut terlihat di Bengkel Las Nona Timor milik Ino Oematan, yang berada di Kompleks BTN Blok F Nomor 26, Kecamatan Bikomi Selatan, TTU.
Bengkel yang mulai beroperasi sejak 2020 itu perlahan berubah menjadi tempat belajar bagi mahasiswa yang ingin mendapatkan penghasilan sekaligus keterampilan praktis.
Kuliah Pagi, Mengelas Sore hingga Malam
Pemilik Bengkel Las Nona Timor, Ino Oematan, mengatakan awalnya ia hanya menerima beberapa mahasiswa untuk bekerja paruh waktu.
Ide tersebut muncul setelah dirinya melihat mahasiswa memiliki waktu luang sebelum maupun setelah kuliah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
“Saya buka bengkel ini 2020. Awalnya kasihan melihat anak-anak mahasiswa yang waktu luang setelah atau sebelum kuliah terbuang percuma. Akhirnya saya ajak kerja di sini,” ujar Ino saat ditemui di bengkelnya, 24 Juli 2026.
Ia menerapkan sistem kerja yang fleksibel. Mahasiswa bekerja pada sore hingga malam hari atau saat hari libur, sehingga jadwal pekerjaan dapat menyesuaikan dengan kegiatan perkuliahan.
Bagi Ino, kuliah tetap menjadi prioritas.
“Kerjanya di luar jam kuliah, sore sampai malam dan hari libur,” katanya.
Penghasilan Las untuk Bayar UKT
Salah seorang mahasiswa UNIMOR yang bekerja di bengkel tersebut, Mardi Mali dari Program Studi Administrasi Negara, mengaku telah sekitar dua tahun menekuni pekerjaan sebagai tukang las.
Penghasilan yang diperolehnya tidak digunakan untuk bersenang-senang. Sebagian digunakan untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), membeli buku hingga memenuhi kebutuhan tempat tinggal.
“Uang dari las ini saya pakai bayar UKT, beli buku dan kebutuhan kos,” kata Mardi.
Menurut dia, salah satu hal yang membuatnya mampu menjalankan dua aktivitas tersebut adalah dukungan pemilik bengkel.
“Jam kerja kami fleksibel. Bos Ino paham kalau ada jadwal kuliah dan ujian. Jadi kuliah tetap jalan,” ujarnya.
Di bengkel tersebut, mereka mengerjakan berbagai pesanan, mulai dari pagar, teralis, pintu, kanopi hingga pekerjaan las untuk sejumlah instansi.
Upah pekerjaan dibagikan setiap minggu sehingga mahasiswa dapat mengatur penghasilannya untuk kebutuhan kuliah dan kehidupan sehari-hari.
Dari Tidak Bisa Mengelas hingga Mampu Bekerja Sendiri
Tidak semua mahasiswa yang datang ke Bengkel Las Nona Timor sudah memiliki keterampilan mengelas. Sebagian justru belajar dari nol.
Ino mengatakan mahasiswa yang awalnya hanya melihat proses pengelasan kini mulai mampu mengerjakan berbagai pekerjaan secara mandiri.
“Mereka pintar, mau belajar. Dari awalnya tidak bisa pegang las, sekarang sudah bisa bikin sendiri. Saya bangga. Ini bukti anak TTU itu pekerja keras,” ucapnya.
Menurut Ino, pengalaman bekerja di bengkel bukan hanya memberikan penghasilan, tetapi juga menjadi modal keterampilan bagi mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat mendorong mahasiswa untuk menjadi wirausahawan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
Kampus Apresiasi Mahasiswa yang Mandiri
Kisah mahasiswa UNIMOR yang bekerja sambil kuliah mendapat apresiasi dari pihak kampus.
Wakil Rektor III UNIMOR Bidang Kemahasiswaan, Marsianus Fallo, menilai aktivitas tersebut menjadi contoh positif bagaimana mahasiswa dapat mengembangkan kemandirian tanpa meninggalkan kewajiban akademik.
“Kami sangat mendukung mahasiswa yang mandiri seperti ini. Ini implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kuliah jalan, keterampilan dapat, ekonomi keluarga terbantu,” ujar Marsianus.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Ino Oematan yang telah membuka ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman kerja.
“Pak Ino Oematan layak menjadi contoh pengusaha yang peduli pendidikan,” katanya.
Hingga saat ini, lebih dari lima mahasiswa UNIMOR tercatat pernah dan masih bekerja di Bengkel Las Nona Timor.
Percikan Las dan Mimpi Masa Depan
Di antara suara mesin dan percikan api las, terselip mimpi besar para mahasiswa tersebut. Mereka ingin menyelesaikan pendidikan, mendapatkan gelar sarjana, sekaligus memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk mencari penghidupan.
Bagi Ino, itulah alasan dirinya tetap memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bekerja di bengkelnya.
“Ilmu yang mereka dapat di bangku kuliah, keterampilan mereka dapat di bengkel. Nanti lulus mereka bisa buka usaha sendiri. Itu kebanggaan saya,” tutup Ino.
Kisah mahasiswa UNIMOR di Bengkel Las Nona Timor menjadi pengingat bahwa perjuangan meraih pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas.
Kadang, pelajaran tentang kehidupan justru datang dari tempat yang penuh suara mesin, bau besi dan percikan api sebuah bengkel kecil yang menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk belajar bekerja, mandiri dan menata masa depan. (Inyo)
Editor : Marcho


















