Hariannttnews.com – Waingapu, Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Sumba Timur diperkuat melalui pemberdayaan kader posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Tim dosen Program Studi Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Kupang sukses melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Kader Posyandu dalam Pemantauan Balita Stunting di Kelurahan Temu, Kabupaten Sumba Timur”.
Program yang berlangsung selama tiga bulan, dari Juli hingga September 2025 tersebut, menjadi salah satu langkah konkret dalam meningkatkan kapasitas kader posyandu untuk mendeteksi, memantau, dan mencegah stunting pada balita secara berkelanjutan.
Tim pelaksana yang terdiri dari Antonetha, Kartini, Ester, dan Veronika memfokuskan kegiatan pada penguatan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu di Kelurahan Temu. Langkah ini dinilai penting mengingat stunting masih menjadi tantangan serius di wilayah tersebut.
Berdasarkan data tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten Sumba Timur tercatat mencapai 17,68 persen. Sementara itu, di Kelurahan Temu ditemukan sebanyak 46 kasus balita stunting yang memerlukan perhatian dan penanganan berkelanjutan.
Ketua tim pengabdian, Antonetha, menjelaskan bahwa rendahnya pemahaman mengenai stunting dan pola pemberian gizi yang tepat masih menjadi salah satu faktor penghambat dalam upaya pencegahan.
“Selama ini ditemukan bahwa pemahaman kader dan orang tua tentang stunting serta cara pemberian gizi yang tepat masih terbatas. Pendampingan pasca pemberian bantuan juga belum berjalan maksimal,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim merancang berbagai kegiatan mulai dari sosialisasi, pelatihan, simulasi penyusunan menu makanan bergizi, pendampingan langsung ke rumah-rumah keluarga balita, hingga pemantauan rutin perkembangan anak.
Sebanyak 10 kader posyandu mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka dibekali kemampuan melakukan pengukuran pertumbuhan anak secara akurat, memantau perkembangan balita, serta memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pola asuh dan pemenuhan gizi sesuai pedoman “Isi Piringku”.
Hasil evaluasi menunjukkan dampak yang positif. Nilai rata-rata pengetahuan kader meningkat signifikan dari 52,5 sebelum pelatihan menjadi 81,5 setelah pelatihan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa program yang dijalankan berada dalam kategori cukup efektif dalam meningkatkan kapasitas kader.
Kartini, salah satu anggota tim, mengungkapkan bahwa para kader kini telah memiliki keterampilan yang lebih baik dalam melakukan pengukuran antropometri dasar.
“Setelah pelatihan, kader sudah mampu melakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar lengan dengan benar. Mereka juga dapat menjelaskan kepada orang tua cara menyusun makanan sehat dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar,” katanya.
Selain peningkatan kemampuan teknis kader, program ini juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam penanganan stunting. Ester dan Veronika menegaskan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan semata.
“Perlu kerja sama lintas sektor dan keterlibatan aktif keluarga. Kader yang sudah dibekali pengetahuan ini diharapkan bisa terus mendampingi secara berkelanjutan sehingga perubahan perilaku hidup sehat dapat terwujud di tingkat rumah tangga,” ujar Veronika.
Sebagai luaran program, terbentuk tim pendamping keluarga balita stunting yang siap melakukan pendampingan rutin di masyarakat. Selain itu, tim juga menyusun panduan praktis yang dapat digunakan kader dan orang tua dalam memantau pertumbuhan anak serta menerapkan pola makan bergizi seimbang.
Melalui program ini, Poltekkes Kemenkes Kupang berharap model pemberdayaan kader yang telah diterapkan di Kelurahan Temu dapat direplikasi di wilayah lain di Sumba Timur.
Dengan keterlibatan aktif masyarakat dan pendampingan yang berkelanjutan, upaya menurunkan angka stunting di daerah tersebut diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak nyata bagi kualitas generasi masa depan. (*/HNN)


















